Untung ada Google Map dan Google Street View Indonesia

Disclaimer: Late post buanget🙈

Beberapa bulan lalu, kantor gw punya gawe lumayan besar. Gawe yang melibatkan seluruh pekerja kantornya ini pun butuh kerja lapangan demi mendapatkan kondisi sebenarnya dari data yang yang diinginkan.

Gw yang udah luama banget gak turun gunung menyusuri lembah wilayah kantor gw gelagepan. Nyari alamat bisa berjam-jam dan kadang ragu ama hasilnya. Padahal waktu yang diberikan untuk tugas lapangan cuma sedikit.

Ya kali salah gw gak pake modal dulu waktu terjun lapangan. Padahal, sebagai orang yang sering kesasar di dunia antah berantah, gw udah sering make andalan pake internet. Browsing alamat lah, nyari akun fesbuk lah, atau review suatu tempat.

Keunder-estimate-an dalam nyari alamat-alamat biasa (bukan tempat terkenal) di Indonesia ini bikin gw kelimpungan di penjuru kampung. Gw ragu di Indonesia ini (terutama wilayah perumahan dan perkampungannya) mempunyai data yang bisa dijadikan modal ngebolang.

Sebelum melambaikan tangan ke kamera, akhirnya gw pake ilmu lawas backpacker yang ternyata, wow, Indonesia sudah lumayan nginternet sekarang (takjub ndeso🙈).

Keraguan yang berubah jadi suka terheran-heran dengan aplikasi satu ini: Google Street View. Tadinya gw pikir Indonesia bakal sedikit data dan view peta wilayahnya, tapi ternyata sejak Juni 2015 (untuk wilayah Semarang) sudah banyak gambar dan peta yang diupload.

Banyak wilayah yang bisa dijelajahi dari aplikasi ini, termasuk gang-gang kecil di wilayah perumahan. Cuma sayangnya beberapa jalan besar tetep gak bisa diambil datanya oleh Google Street View karena portal menghadang.

Data alamat dan taggingnya pun lumayan akurat, bisa dimanfaatkan untuk keperluan backpacker atau wisata, atau paling apes ya, bisa dipake pas kita kesasar🙊.

Etapi, dulu kami sekeluarga punya pengalaman agak traumatik dengan Google Map. Mungkin karena salah meminta data atau membaca data yang tertera, kami melalui jalur sepi melintas jurang dan hutan di wilayah Batang-Temanggung. Jalur yang diminta memang bisa dilalui mobil, namun bukan jalur yang umum digunakan. Jadi sepanjang jalan yang mencekam itu, kami hanya bisa berdoa supaya Google Map bisa ngasih rekomendasi lebih baik😹.

Pernah juga, seorang teman yang kayanya habis nonton film horor Indonesia, panik karena mengira kami kesasar di daerah mistik bernama Tali Pocong, untungnya panik mereda setelah zoom in-zoom out beberapa kali tulisan daerah itu terbaca Kali Pucung..😫

Bukan Tali Pocong, ini Kopeng

Bukan Tali Pocong, ini Kopeng

Masih Kopeng

Masih Kopeng

jalur Merapi-Salatiga

Walaupun traumatik, gw gak kapok ngebolang pake Google Map. Apalagi setelah dilengkapi Google Street View, semakin bisa ngasih gambaran (mendekati) kenyataan sebenarnya dari tempat yang dituju. Yang perlu diingat sih kapan waktu pengambilan gambar dan update datanya juga sih.

Untuk data-data di Semarang, relatif baru karena baru di upload per Juni 2015 lalu. Tapi pas iseng selancar di daerah gw tinggal dulu di UK malah yang ada data tahun 2014, dan oh ya.. Mas Suami kejepret Google Street View ini dong di sekitar flat kami di sono. Walaupun mukanya di blur, gw tau dia, untung kejepretnya pas jalan sendirian ya Pak..😹.

Nah, buat temen-temen yang mau menjelajah Indonesia, sok atuh pake Google Map dan Google Street View Indonesia😎

(Beneran bukan posting endorse)

 

Duduknya Yang Bener To

Pesawat jurusan Surabaya Singpore akan take-off namun tertunda gara-gara seorang Madura dengan tiket ekonomi tapi duduk di kelas bisnis.
Joni, pemilik kursi bisnis : ”Maaf Pak… Ini kursi saya”
Madura : ”Sopo sampean..?”
Joni : ”Saya penumpang yang duduk disini pak..!”
Madura : ”Penumpang..?Aku juga, aku yo mbayar cak..! Podo penumpang e kok ngatur, gak iso cak..!”
Joni lalu lapor ke pramugari.
Pramugari : “Maaf pak.. dari tiket Bapak mestinya duduk di belakang”
Madura : “Sopo sampean..?”
Pramugari : “Saya pramugari”
Madura : “Pramugari.. ? Opo iku, aku gak ngerti dik, ngomong sing gampang ae..!”
Pramugari : “Pramugari itu yang melayani penumpang selama penerbangan”
Madura : “Oh, pelayan..? Aku iki penumpang, aku nang kene mbayar, sampean ojo ngatur² aku..!! Gak iso..!! Aku pengen lungguh kene..!!”
Pramugari habis akal, dia memanggil pilot.
Pilot : “Maaf pak, mestinya bapak duduk di belakang..!! “
Madura : “Sopo sampean?”
Pilot : “Saya pilot pak”
Madura : “Opo iku pilot..?? Lek ngomong seng gampang² ae dik..!! Aku gak ngerti..!!”
Pilot : “Pilot itu yang mengemudikan pesawat ini”
Madura : “Oh sopir..?? Hey sopir.. aku iki penumpang, aku numpak iki mbayar, sampean sopir ae ngatur², gak iso, aku pengen lungguh kene..!!”
Poltak, orang Batak yang baru masuk pesawat mendengar ribut² bertanya pada pilot, kemudian dia manggut² dan mendekati si Madura itu sambil membisikkan sesuatu di telinganya, si Madura itu lalu bangkit dari tempat duduknya sambil ngomel:
“Oh sopir goblok, pelayan goblok… selamet aku gak lungguh kono, jatuk o lak kesasar aku rek..!!”
Lalu dia pindah ke belakang, pilot merasa takjub, dia bertanya pada Poltak:
“Apa sih yang bapak bisikkan, koq tiba² dia sukarela pindah kursi?” Poltak menjawab: “Saya tanya bapak mau ke mana? Dia jawab mau ke Jakarta, saya bilang bapak duduknya salah, kalau Jakarta duduknya di belakang, yang depan ini turun di Singapore… !!!”
😸😸😸
(Disclaimer: guyonan ini hanya sebagai ilustrasi, tidak bermaksud merendahkan suku tertentu)
Pernah baca atau malah mengalami kejadian kaya gitu?
Sebagai pengguna angkutan umum yang lumayan sering, gw beberapa kali mengalaminya lho. Dari naik bis jarak jauh sampai pesawat udara.
Yang gw maksud disini adalah kejadian dimana seorang penumpang yang gak tertib duduk sesuai dengan kursi yang tertera di tiket yang dibelinya. Tentu saja yang diomongin disini adalah tiket pada moda transportasi yang memang menyediakan fasilitas pemilihan tempat duduk, bukan moda transportasi macam siapa cepat dia dapat.
Jaman sekarang, Indonesia sudah cukup maju. Kereta api dan pesawat menggunakan sistem online untuk proses pembelian tiket, baik pemesanan maupun pembayarannya. Dalam proses booking itu, terdapat informasi peraturan perjalanan, harga tiket, jurusan, dan nomor kursi yang bisa dipilih sesuai dengan kemauan.
Tapi kenyataannya, beberapa pemakai moda transportasi kok ya ada aja yang ngeyel dilihat dari kejadian pelanggaran peraturan perjalanan ataupun masalah duduk menduduki ini.
Beberapa kali gw kepentok ama penumpang yang sepertinya tidak mau tahu dengan hal ini. Ada yang mlipir malu, beringsut duduk ke tempat yang sesuai dengan tempat duduknya ketika ditegur, ada pula yang malah cuek nggak ngerti etika walaupun diberi tahu😿.
Gw sendiri, menanggapi orang-orang model ginian liat sikon juga. Apakah akan meneruskan perjuangan merebut kursi yang dipesan, atau merelakan dengan mendoakan si dzolim dengan gaya melas tertekan.
Perjuangan gw ngasih tau penumpang “salah kursi” ini pun sebatas menegur pelan atau paling ekstrim manggil pramugari ketika suatu saat kursi gw diduduki seorang ibu yang keasyikan selfie dengan latar belakang jendela pesawat.
Teguran pelan ini ada yang berhasil, dan sering gagal juga sih, terutama ke penumpang bis malam yang mengira sistem duduk di kursi bis masih menganut sistem orde baru dimana angkutan umum duduknya cepet-cepetan.

Klo yang model ini memang cepet-cepetan

Klo yang model ini memang cepet-cepetan

Baru-baru ini, gw naik kereta api, dan kejadian lagi dong. Ketemu bocah ABG yang hapenya haus chargeran, pas ditegur disuruh pindah dengan entengnya bilang ” Ogah ah, disana gak ada charger”. Rasanya pingin tak setrum pake chargernya sekalian.

Nah, bagusnya kalo ketemu penumpang model ginian harus gimana sih?
*malah melempar pertanyaan😸

Kok ke St. Andrews sih?

Tahun 2000an, adalah masa yang cukup sulit buat gw lalui, kenapa? Karena waktu itu Indonesia masih dalam rangka pemulihan badai krisis ekonomi jadi imbasnya uang saku sekolah gw mefet banget, karena waktu itu pelajaran sekolah kok ya lagi susyah-susyahnya, ngitung integral, gaya gravitasi, dan persamaan linear gerakan roket yang, aduuh..berat men. Tapi dua itu belum apa-apanya dibanding kabar dari sebuah koran infotainment yang menyesakkan, Pangeran William dari Inggris jadian ama cewek temen sekolahnya, uhuuuk, jleb lah..

Waktu itu gw langsung penasaran seperti apa temen ceweknya ini, sekolah dimana, anak siapa..😝😝. Setelah cari info sana sini, akhirnya tau kalo Mas Willie dan Mbak Katie ini ketemu dan saling naksir di University St. Andrews.

Setelah melewati masa pedih denger cerita jadian mereka, ternyata gw malah penasaran ama universitas dan kota kecil nan kuno ini. Kenapa Mas Willie sekolah disitu, kaya apa sekolahnya dan pastinya sejarah kota St. Andrews itu sendiri.

Gak seperti bayangan gw yang tadinya underestimate ama Univ St. Andrews dan kota St. Andrews, ternyata kota kecil ini mempunyai banyak cerita, banyak sejarah kuno. Nama kota ini diambil dari nama seorang tokoh bernama St. Andrews (salah satu murid Isa Almasih) yang  sangat pandai bersosialisasi dan mencari pengikut. Andilnya dalam penyebaran agama Kristen membuatnya menjadi tokoh pelindung di daerah Scotlandia, Yunani, dan Rusia. Kisah kematiannya yang berakhir di tiang salib berbentuk diagonal pun menginspirasi bentuk bendera Scotlandia.

Beberapa reruntuhan gereja dan benteng kuno membuktikan banyaknya peperangan dan kejadian yang dahsyat pernah dilalui kota ini. Bangunan-bangunan kuno tersebut, walaupun sebagian hanya berupa bagian-bagian tembok tak sempurna, namun tetap kelihatan terjaga. Perkiraan gw, kalo gak sengaja dirusak atau kena kejadian alam yang parah, mungkin bangunan itu akan bertengger dengan gagah di ujung bukit kota.DSCF0237

Gate

Gate

Reruntuhan Katedral

Reruntuhan Katedral

Reruntuhan katedral

Reruntuhan katedral

Jalan sudut kota

Jalan sudut kota

 

Pun Universitas St. Andrews sendiri prestasinya ternyata gak baen-baen. Universitas kuno ketiga di negara berbahasa Inggris setelah Cambridge dan Oxford, juga merupakan universitas tertua di Scotlandia ini masuk ranking antara tiga terbaik se UK sampe 50 terbaik dunia (tergantung jurusannya). Beberapa tokoh penting di Inggris Raya dan Scotlandia (selain sang Pangeran dan Putri) pernah sekolah disini, ndak sah disebutin tapi yaa (ndak ditanyain pas Ebtanas kok).

Pengen jadi adek kelasnya Mas Pangeran

Pengen jadi adek kelasnya Mas Pangeran

Yang menarik, di salah satu dinding Universitas tertera salah satu informasi yang wow banget, Gregorys Meridian Line. Garis yang diciptakan oleh James Gregory,  membelah bola dunia menjadi barat dan timur di tahun 1673. Garis meridian ini diciptakan jauh sebelum Greenwich Prime Meridian disyahkan sebagai acuan pembagian zona waktu dunia di tahun 1884. Menurut beberapa ahli matematika, Gregorys Meridian Line dinilai lebih akurat dalam pembagian zona waktu (selisih 12 menit lebih awal), namun karena pada akhir abad 19 banyak negara yang menggunakan Greenwich Mean Time sebagai acuan waktu, maka akhirnya GMT diputuskan menjadi standart pembagian waktu dunia.

Abaikan sang Mbak2 dan duo bocilnya😿

Abaikan sang Mbak2 dan duo bocilnya😿

Gregorys Medirian Line,  sebiji garis di trotoar yang membelah dunia

Gregorys Medirian Line, sebiji garis di trotoar yang membelah dunia

Jasa James Gregory dalam dunia ilmu pun banyak, menciptakan teleskop Gregorian, serta salah satu matematikawan yang juga menciptakan kalkulus bersama Newton dan Leibniz. Penemuannya yang gak kalah penting yaitu meletakkan dasar Prinsip Diffraction Grating (nyang ini cari sendiri penjelasannya yeee, rumit bin ajib deehhh..)

 Selain itu, disini ternyata adalah kampung halamannya olahraga golf. Lapangan golf kuno itu bernama Old Course, masih terawat rapih hingga kini, dan masih menjadi kesayangan para olahragawan golf terkemuka dunia.

Yaah, Alhamdulillah banget ternyata pernah mampir di kota penuh kenangan gini. Setelah satu setengah dekade cuma bisa bayangin Mas Willie dan Mbak Katie jalan gandengan tangan menuju kantin, eh sekarang gw gak mau kalah mesra dengan menggelendot manja ke pundak Mas Suami 😘.  Tsahhh..

Oiya, gw malah dari tadi gak ngejelasin letak kota St. Andrews ya, jaraknya kira-kira 16 km arah tenggara Dundee, dan kira-kira 50 km arah timur laut kota Edinburgh. Kalo mo kesini, bisa naik bis atau kereta dari Edinburgh (ke arah Dundee) lanjut naik bis yang tiketnya gratis sepaket ama kereta, atau langsung naik bis jurusan St. Andrews.

Oiya lagi, karena letaknya di tepi timur Pantai Fife, Scotlandia, kota kuno ini berangin semribit, kuenceng angine. Bayangin aja para lelaki Scotland pake kilt tanpa daleman, pasti harus tangguh banget supaya gak masuk angin.

Tepi pantai

Tepi pantai

DSCF0193DSCF0224

#Udahlah jangan nurut ikut bayanginn.😝

Mampir di St. Andrews

Hallloooo, Assalamualaikuuum.
Ok, ini postingan super duper telad, gak update dan cuma mo bagi (baca : pamer) poto-poto doang semasa gw di St. Andrews, Scotlandia sekitar bulan April 2015. Please jangan disambit yes..
Jadi, pada waktu itu, gw udah capek berat dengan persiapan kepulangan kami sekeluarga ke Indonesia. Walaupun cuma packing baju, sedikit oleh-oleh dan barang-barang printilan yang kami bawa, tapi lumayan bikin tepar lho. Teparnya karena sibuk menyeleksi barang mana yang mo dibawa dan barang mana yang harus direlain tinggal.
Hal ini penting karena kami akan meninggalkan United Kingdom via perjalanan udara, yang mana peraturannya cukup ketat. Kiranya gak perlu dibahas betapa strictnya Mas Suami membatasi barang-barang yang akan kami bawa ya, apa-apa maunya ditinggal, dari koleksi Legonya bocah-bocah, sampe beberapa baju musim dingin yang katanya gak bakalan kepake di Indonesia.
Thanks God, gw cuma punya baju musim dingin dikit, jadi gak nyesel-nyesel amat meninggalkan baju-baju berat itu di charity box. Tapi khusus Lego, memang gw agak berat meninggalkan mereka, itu mainan kesukaan bocah-bocah, dan pastinya harganya lumajan buat Mak Irit macam gw, heheh. Syukurlah Mas Suami masih meloloskan permintaan gw membawa plastik cilik-cilik itu naik pesawat.
Btw, kalo dipikir-pikir, memang syukur Alhamdulillah Mas Suami kekeuh meninggalkan beberapa barang yang terindikasi berbahaya bagi proses penerbangan kami. Selain demi urusan kelancaran dan keselamatan penerbangan, tentunya kami gak mau dicap sebagai pendatang yang gak tau aturan negara orang lah, jaga image Indonesia gitu lho.
Segala macam saos, mustard, dan bahan makanan berharga kami wariskan ke beberapa teman Indonesia yang mau menerima. Sabun, diapers, baju-baju berat, sepatu, seprei, selimut, dan toiletries akhirnya pun ditega-tegain buang, hiks. Piye meneh, daripada diudhal-udhal (dibongkar) paksa ama petugas Avsec trus bete karena gak diberesin padahal masih bawa anak cilik dua biji, ehhh..
Hihi, openingnya kepanjangan. Dan ditengah teparisasi packing itu, Mas Suami tiba-tiba menelurkan ide segar, jalan-jalan sebentar yuuk, ke St. Andrews, tempat kuliahnya Abang Willie..Lhaaa, ya jelas mengangguk-angguk beberapa kali lah. Let’s go Baby..
Berangkat dari Dundee City Center naik bis ke St. Andrew Cuma beberapa menit, gak sampe dua jam, perkiraan gw kok kaya Semarang- Salatiga via tol gitu ya, haha. Melewati Tay River yang membelah Dundee dan St. Andrews melalui jembatan besar yang kadang terlarang untuk kendaraan besar karena anginnya yang kenceng, menapak jalan-jalan sepi khas pedesaan Inggris, membuat hati jatuh cinta dan terasa adem (ya iyalah, wong suhu masih sekitaran 10 dercel Mbakee..).
Seperti biasa, sesampainya di St. Andrews kami muter-muter aja tuh di kota kecil tempat Mas Willie dan Mbak Katie kuliah. Kotanya beneran kecil, penduduk asli sepertinya gak banyak, mungkin lebih banyak turisnya. Bangunan-bangunan tua nan terawat ada di sepanjang jalan, kampus, katedral, gereja kuno, benteng kuno, dan rumah-rumah penduduk yang sama menariknya buat dipake background poto selfie.
Yang bikin gw tambah seneng nih, kali ini Mas Suami yang pegang peranan sebagai tukang poto, karena gw lagi alesan pingin menikmati jalan-jalan kali ini, mumpung ke sekolahnya Mas Willie gitu looh. Ostomastis hal ini bikin poto-poto gw kali ini mendominasi, dan senengnya lagi, ada beberapa yang candid ala-ala seleb, haha, nggilani..
Nah, yang bersedia ngintip poto-poto kami, monggoooo..

#warning: berikut akan ditampilkan cuma sederetan poto narsis, demi eksis, dan bisa jadi bikin Anda nangis, haha..

InsyaAllah untuk informasi tentang St. Andrews sendiri akan gw tulis di artikel terpisah.

Ciaoooo

DSCF0188

Jadi, kau memilih dia, Mas?

Beradu lidah

Beradu lidah

Satu..

Satu..

Dua..

Dua..

Tiga..

Tiga..

Sama-sama gak jelas kan?

Sama-sama gak jelas kan?

Mendung-mendung syahdu

Mendung-mendung syahdu

Tetaplah Jadi Anakku

Assalamualaikuuummm, lama bangget gw gak nulis dan blogwalking. Banyak ketinggalan berita dari temen-temen sekalian, maaf yaa.

Dunia perkantoran yang sak karepe dhewe memang membunuhku secara perlahan, mungkin karena gw masih tahap loading dengan pola kerja setelah keasyikan jadi mbok-mbok rumahan nyambi sesekali eksis di dunia blogger (alaahh blogger gadungan saya mah🙈)

Nah, malam ini gw niatin bener mo nulis karena alhamdulillah seminggu kemarin diberi kesempatan cuti dari kantor selama seminggu. Badan dan pikiran sih masih merindukan family time yang tak ternilai harganya, tapi tetep ya, besok Senin harus syemangat ngantor dan kerja lagi.

Seminggu cuti ini gw habisin dengan banyak hal rutin ala ibu-ibu, contohnya ya nyuci-kucek-jemur😹, contoh lainnya ya masak plus bersih-bersih rumah. Rumah yang gw bicarakan kali ini rumah gw sendiri, bukan rumah orang tua tempat selama ini gw dan anak-anak numpang.

Just info, selama ini gw masih numpang di rumah Bapak Ibu. Keluar rumah cuma beberapa tahun waktu gw kuliah, trus dapet penempatan dinas ya balik ke rumah ortu. Diberi kesempatan mandiri hanya beberapa bulan ketika nyusul mas Bojo sekolah, dan setelah kembali ke Indonesia, ya pisah ranjang lagi ke rumah orang tua masing-masing😿.

Kembali ke rumah orangtua, memaksa posisi gw kembali ke dunia “anak-anak”. Karena di tempat inilah, bagaimanapun tuanya usia, gw tetap dianggap “anak” oleh orangtua.

Dianggap “anak” disini bukan berarti gw dianggap anak kecil sih, tapi justru seringnya kaya “diingetin” perannya sebagai manusia dewasa, terutama peran gw jadi emak-emak kekinian.

Contohnya simpelnya nih, gw bisa ditegur kalo sholat subuhnya kesiangan walopun alesannya gw capek, gw bakal ditelponin kalo pas dapet jatah lembur dan nggak ngabarin rumah, dan tentunya, gw bakal diingetin buat kondangan ke tetangga anu atau ikut arisan inu.

Belum lagi kalo berbicara tentang pola pengasuhan anak, kehidupan berumahtangga yang LDR-an, sampe hubungan dengan mertua beda budaya, hihi..ribed euy. Padahal itu belum apa-apanya kalo pas kebetulan kami beda pandangan menentukan kapan sholat Ied, atau beda pilihan pas nyoblos presiden anu, haha..🙊

Kadang hal itu melelahkan gw. Dan beberapa kali akhirnya menjadi sumber kecanggungan dalam hubungan anak-orangtua. Gw tau juga sih, hal tersebut merupakan bentuk perhatian orang tua terhadap gw. Dan pastinya, mereka melakukan itu karena kasih sayang yang tak terbatas.

Kalo pas lagi adem dan mikir sehat, gw bisa nangis sendiri inget kelakuan-kelakuan gw yang memang masih butuh pengawasan. Tapi sayangnya, kalo pas badan ini capek atau kondisi mental yang amburadul, lagi-lagi gw bisa nangis sendiri karena butuh bersenang-senang (hayaaah!).

Tapi ya, sepanjang pengalaman gw menjadi “anak-anak” yang sudah terlalu tua (Bocah Tua Nakal- Cu Pe Tong; generasi 90-an pasti tau inilah) posisi anak gimanapun adalah posisi penuh cobaan dan kalahan😿.

Maksud gw, sebisa apapun, mengalahlah pada orangtua. Misalkan kita (merasa) benar pun, mengalahlah dengan berdiam diri terlebih dahulu, beri wejangan, eh..pendapat atau dasar ilmu tentang sesuatu yang kita anggap benar itu setelah kondisi lebih aman terkendali dan tentunya dengan suara dan perilaku selembut mungkin.

Kalo ada yang ngambek, wes lah, legowo buat koya atau nyolu (bermanis-manis mulut dan perilaku; boso Semarang) terlebih dahulu. Gak ada salahnya, sapa tau dapet uang jajan dari Bapak atau Ibu, eh..🙊

Hal itu tentu bukan tanpa dasar, karena orangtua lah yang dari kecil merawat kita, orangtua lah yang mendidik kita, dan kepada orangtua lah kita mempunyai hutang. Ridho orangtua lah yang kita butuhkan untuk sukses dunia akhirat.

IMG-20141217-WA0001

Bismillah, semoga Allah SWT selalu memberikan kemudahan dan kelancaran urusan untuk Bapak Ibu. Amin.

Yang jelas, jadi orangtua ataupun anak, gak ada posisi yang lebih mudah. Orangtua pun pasti merasa kesulitan bila anaknya bandel, ngeyelan, dan kekanakan. Jadi anakpun, kalo bisa belajar untuk menjadi lebih baik lagi biar bisa membahagiakan Bapak Ibuknya.

Sama-sama terus belajar sih, karena cita-cita gw, pingin jadi orangtua yang fun dan jujur aja ama anak. Gak selamanya harus menunjukkan kesempurnaan, bisa sama-sama berlaku konyol, bersahabat dan yang penting berani minta maaf bila memang merasa menyinggung hati anak-anak.

#note buat gw kelak.

#semoga ingat, dan tolong ingatkan Ibumu yang pelupa ini, Nak

Matikan Kalkulatormu

Beberapa bulan kembali ngantor, tapi nglirik rekening gaji masih minus itu rasanya mulesi😁. Gimana enggak, kebutuhan kembali ke “markas” dan rutin bulanan sudah menanti, tapi birokrasi tetaplah harus ditaati.

Perjalanan surat penempatan kerja gw sebagai karyawan harus melewati jalur panjang dan (cukup) lama. Yah, itulah birokrasi. Jalan tengahnya ya harus “fasten your seatbelt” sampai bendahara kantor bisa mengabarkan bahwa sekarang kulit manggis ada ekstraknya.

Penghiburan dari beberapa teman yang menyarankan gw untuk bersabar, dan harapan bahwa sesuatu akan indah pada waktunya merupakan gizi cukup ampuh buat otak gw mengatur mindset.

Yep, mindset sebagai seseorang tanpa penghasilan, akan berdampak besar dalam proses membelanjakan uang yang sumbernya sekarang hanya dari transferan. Walaupun sempat beberapa kali terjadi miscalculation karena kebutuhan Lebaran yang tidak toleran. Bokek book.

Penghiburan lain, dari seorang teman, bahwa kalo sekarang belom gajian, berarti suatu saat akan rapelan. Kalkulatorpun berjalan, menghitung pundi-pundi uang.

Gw bilang, jangan gitu Sayang. Matikan kalkulator itu, kalau perlu, buang. Yah, sebagai seorang yang pernah merasa dikecewakan, gw takut dalam hal menghitung uang.

Takut bila ternyata gak sesuai harapan, takut bila ternyata banyak potongan, dan takut kenyataan, halah..

(Ahh, udah cukup berimanya, susah ternyata..)

Yeah, itulah yang terjadi selama beberapa bulan ini. Bokek berat karena belum gajian, tapi kadang mindset masih pegawe kantoran. Wich is kadang makan siang masih pingin yang enak dan mahal, liat olshop fashion langsung jelalatan.

Mindset gw yang salah, karena dalam lubuk hati terdalam masih tersimpan harapan rapelan dengan angka sekian-sekian, seharusnya bisa ditepiskan. Mindset itu kadang bikin gw berasa matre karena kerja cuma ngarep bayaran. Walaupun itu 99,99% benar.

Padahal ya, gw sering ngomongin junior magang di kantor gw, bahwa jangan sampe mereka udah ngitung rapelan. Selain ora elok, hal itu bisa bikin mereka membayangkan hal-hal yang cenderung konsumtif, bukan produktif. Ya iyalah, belum nerima duitnya, tapi udah rencana mo beli apa-apa.

Baiklah, berencana itu boleh. Cermat berhitung itu juga harus. Namun, ada hal lain yang juga harus diingat. Resiko dan biaya. Dalam ilmu hitung ramal meramal, dua faktor ini mempunyai andil. Ada yang besar, dan ada yang kecil, sesuka kita ajalah. Yang jelas, dua hal ini tak patut disingkirkan.

Gw kasih contoh aja, grade penghasilan gw ternyata diturunkan setelah kembali dari cuti, itu resiko. SK penempatan gw ternyata tak berlaku surut, dan akibatnya, dua bulan gw ngantor -sebelum SK tersebut terbit-pun gak dibayar, dan gw terima hal tersebut sebagai resiko.

Sebenernya ada beberapa jalur untuk meminimkan resiko, dengan mengikuti peraturan yang sudah dibuat. Karena pada dasarnya, peraturan merupakan guidance kita melaksanakan sesuatu.

Seperti dalam kasus gw, mengajukan surat pengaktifan pegawai sebelum cuti berakhir, sehingga proses birokrasi pengaktifan pegawai itu sudah selesai ketika gw balik ngantor. Karena beberapa hal, memang gw terlambat mengajukan surat tersebut ke kantor, ya wes itu salah gw dong.

Yang kedua, karena peraturan penurunan grade penghasilan itu memang sudah tertulis dalam kitab kepegawaian, maka sudah sepatutnya gw legowo menerima keputusan penyunatan tunjangan penghasilan.

Nah, sudah ada yang mau bantu bikin posko koin bantuan gak?

#ngarep😁😁20150430094320

Buat Apa MCU?

Wait, ini bukan iklan, ini cuma sharing pengalaman.

-disclaimer dari seorang lebayer Indonesia-

Sudah pernah Medical Check Up (MCU)?Apa to MCU itu? MCU adalah program pemeriksaan kesehatan yang bertujuan untuk mengetahui status kesehatan seseorang, selain untuk mendiagnosis gejala dini atau mengobati penyakit. Prosedur MCU dilakukan dengan cara wawancara riwayat kesehatan dan pemeriksaan pendukung seperti tes darah, urine, rontgent, dan lain-lain sesuai kebutuhan.

Biasanya dokter akan mewawancarai customer mengenai riwayat kesehatan dengan menanyakan kondisi kesehatan secara umum, operasi yang pernah dilakukan, dan jenis obat-obatan yang pernah dikonsumsi. Selain itu gaya hidup yang dijalani, seperti pola makan, istirahat, olahraga, serta kemungkinan konsumsi rokok dan alkohol. Tak lupa penyakit yang biasanya ada di keluarga untuk mendeteksi resiko kecenderungan penyakit akibat pola genetis.

Setelah wawancara riwayat kesehatan, dokter akan melakukan tes pendukung seperti pengukuran tekanan darah, detak jantung, tes darah, tinggi badan, berat badan, plus tes darah, urine, dan rontgent bila diperlukan.

Jenis-jenis MCU pun bervariasi tergantung keperluan dan permintaan customer. Beberapa jenis MCU yang udah pernah gw jalani adalah MCU Penerimaan Pegawai (kesehatan umum, narkoba, paru-paru), MCU Pranikah (HIV/AIDS, Rhesus, Hepatitis, PMS), MCU Rutin dari kantor (gula darah, jantung, kolesterol, paru-paru), MCU Permohonan Visa (paru-paru, pemeriksaan kesehatan umum), MCU untuk Wanita Dewasa (pemeriksaan umum, kanker serviks), dan yang terbaru adalah MCU Rubella (Campak Jerman).

Dari beberapa MCU tersebut, ada yang gw lakukan atas inisiatif pribadi, dan ada yang gw lakukan karena tuntutan suatu instansi. Untuk MCU yang bersifat pribadi, awalnya gw lakukan karena pengaruh Mas Suami yang super duper kelewatan sikap hati-hatinya. Kekhawatiran beliau memang kadang berlebihan, tapi kalo dipikir-pikir memang masuk akal. Bagi gw pun, selama ada rejeki untuk melakukan MCU tersebut, gw akan jalani supaya ketenangan hati mengenai kondisi kesehatan tubuh kami lebih terpantau.

Dulu sekali, gw pernah tersinggung dengan permintaan beliau untuk MCU Pranikah yang mengharuskan kami tes darah untuk memeriksa apakah kami kena HIV/AIDS, Rhesus, Hepatitis, dan PMS( Penyakit Menular Seksual). Rasa marah karena merasa gak dipercaya akan pola hidup sehat dan perilaku, mendera pikiran gw karena stigma bahwa yang seharusnya tes macam itu adalah orang yang beresiko tinggi terpapar HIV/AIDS, Hepatitis, dan PMS. Selain itu biaya MCU yang cukup tinggi juga bikin gw mengkeret sambil bayangin duit sebanyak itu bisa gw pake buat bikin kebaya cantik atau nambahin budget makanan tamu.

Tapi toh MCU itu tetep  dilakukan karena walopun waktu itu gw merasa yakin akan keadaan tubuh, tapi gw gak mau beresiko buta terhadap kondisi kesehatan. Apalagi setelah pernikahan, ada tahap yang lebih kompleks karena menyangkut kondisi kesehatan orang-orang disekeliling gw macam suami dan anak-anak.

Dan waktu itupun, seinget gw, kami pernah berdiskusi bila nanti hasil MCU Pranikah ini tidak seperti yang kami harapkan, maka kami harus saling jujur dan fair untuk memikirkan ulang keputusan kelanjutan hubungan kami. Alhamdulillah hasil MCU Pranikah itu sesuai harapan kami yang menyatakan kami sehat dan golongan Rhesus pun sama.

Kalo dipikir-pikir lagi, MCU ini sebenernya mengandung hal lebih jauh dari sekedar mengetahui kondisi kesehatan. Buat gw, MCU adalah deteksi dini dan observasi perilaku gw sehari-hari. Pola makan gw yang masih sembarangan tercantum dalam angka kolesterol yang mendekati ambang batas bahaya, kebiasaan kurang olahraga dan kurang minum air putih juga mempengaruhi keadaan ginjal gw.

Untuk penyakit yang menyebar melalui virus dan bakteri, Mas Suami punya pengalaman (dan kekhawatiran) lebih banyak. Lingkup pergaulannya yang lebih luas dan lebih heterogen vs kehati-hatian beliau menjaga kesehatan dirinya, malah kadang membuat beliau pingin melakukan MCU macem-macem untuk memastikan semuanya baik-baik saja.

Beliau tahu tentang ilmu menjaga kesehatan diri dan teori penyebaran penyakit, namun pikiran tentang suatu sebab abnormal ataupun takdir yang tidak terduga akan selalu ada. Contohnya ketika wabah Ebola menyerang sebagian benua Afrika tahun lalu.

Ketika itu, justru banyak pelajar Afrika yang masih menimba ilmu di United Kingdom, dan mereka masih rutin mudik tanpa terpengaruh isu Ebola tersebut. Mas Suami yang kadar awarenessnya tinggi, memilih untuk menghindar bersalaman dengan kebanyakan teman dengan alasan bahwa dia sedang tidak fit kondisi tubuhnya. Gw yang merasa awareness ini berlebihan akhirnya sempat menegur Mas Suami, takut beliau mendzolimi diri sendiri dengan pikiran berlebihannya itu, serta takut akan ada teman yang tersinggung dengan sikap yang dipilihnya.

Tapi beliau berkata kalo hal ini dilakukannya karena memang Ebola mudah menyebar melalui cairan tubuh seperti keringat, dan waktu itu memang Mas Suami sering mengalami mimisan akibat udara kering bulan Oktober. Jadi, baginya lebih safe menjaga diri dengan perilaku hati-hati daripada menyesal dikemudian hari. Karena efek kesehatan diri kita pasti akan berpengaruh terhadap orang-orang disekitar kita, entah itu keluarga ataupun lingkungan hidup sehari-hari.

Tujuan dari MCU yang pernah gw lakukan pun bukan untuk menghakimi diri atas keteledoran menjaga kesehatan. Karena memang suatu penyakit kadang tetap datang walaupun sudah kita usahakan menghindarinya. Ini hanya salah satu ikhtiar memperlakukan tubuh kita dengan baik, karena biasanya setelah hasil MCU ada di tangan, gw lebih berhati-hati menjaga pola makan.

Selain itu, bila ternyata hasil MCU memberikan kita berita sedih tentang keadaan tubuh kita, setidaknya kita akan lebih tahu cara yang layak untuk memperlakukan tubuh ataupun berhati-hati untuk tidak membahayakan lingkungan sekitar bila kita ternyata membawa suatu penyakit yang mudah menular.

Tau diri, ketika pernah menjadi tersangka pembawa virus

Sadari kesehatan diri, lakukan MCU untuk deteksi dini. #edisi slogan sebuah lab kesehatan