No Hoax Please!

“Bu, Inggris itu negara penjajah ya?”

“Bu, orang Indonesia dulu menang melawan Belanda ya?”

Eitz, tunggu dulu Nak, Ibu bener-bener bingung harus jawab apa untuk pertanyaanmu ini.

Kenapa harus bingung sih? Tinggal ceritain aja sejarah tentang kemerdekaan Indonesia sesuai buku sejarah SD kita. Hmm, benarkah segampang itu? Gak yakin gw.

Sebagai tukang mikir hal-hal kurang penting, gw beranggapan kalo sejarah yang ditulis di sebagian besar buku sekolah dulu (dan kini mungkin), banyak yang dibelokkan. Banyak hal yang menurut gw ditulis dengan tujuan propaganda suatu kepentingan. Jadi akhirnya susah untuk menilai kebenaran suatu sejarah bila kita tidak banyak membaca versi lain dari penulis lainnya.

Hal ini terjadi juga sampe sekarang, media sudah banyak yang ditunggangi oleh pihak-pihak yang mempunyai misi tertentu. Gw sampe skeptis sendiri, dan harus banyak mencari sumber berita yang lain untuk menyimpulkan kebenaran suatu berita.

Yang menyebalkan, karena skeptis terhadap “media resmi”, gw sempat beralih untuk percaya pada berita yang menyebar di media sosial. Gw pikir medsos lebih bersih dari kepentingan karena pembuat berita biasanya mengalami kejadian itu secara personal, atau katakanlah sebagai tangan pertama. Tapi ternyata sama aja, bahkan bisa dibilang lebih buruk karena banyak berita hoax yang bisa ditemukan di ranah media sosial.

Balik lagi ke soal sejarah. Dengan alasan ini gw merasa untuk menyampaikan “sejarah” yang berkepentingan ini harus hati-hati, terutama pada generasi muda. Jangan sampai salah tangkap dan akhirnya jadi cinta buta ataupun dendam turun temurun seperti cerita Mbak Yoyen disini:
https://chezlorraine.wordpress.com/2015/05/27/turun-temurun/.

Ketika bocil nanya tentang cerita bangsa Indonesia, dari jaman penjajahan sampe proses kemerdekaan pun, gw berusaha netral dengan mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan kesuburan alam, jadi banyak negara yang ingin menguasai Indonesia dengan cara penjajahan.

Negara-negara pendatang itu ingin berada di Indonesia karena mereka sendiri kesusahan menguasai alamnya. Kebetulan bocil sudah pernah merasakan beratnya hidup diterpa musim dingin dan angin di negara utara, maka dia pun mudeng tanpa embel-embel benci yang salah.

Yang gw seneng, bocil bisa mengambil kesimpulan kalo seharusnya kita menjaga Indonesia dengan baik, merawatnya, dan berusaha memperkuat negara Indonesia supaya tidak ada negara lain yang ingin menyerang Indonesia seperti masa lalu.(Ni ceritanya jadi keinget ama film Avatarnya James Cameron).

Indonesia indah!

Indonesia indah!

Suatu tepi pantai di Aceh

Suatu tepi pantai di Aceh

Nah, yang gw agak pusing nih, ntar kalo bocil jawab soal ujian sekolahnya pake kata-kata gw yang belum tentu diterima sistem pendidikan disini. Piye jal?

45 thoughts on “No Hoax Please!

  1. haha gak apa lah.. yang penting yang masuk ke hatinya kan? ๐Ÿ˜€
    bener tuh ngajarinnya… gak perlu lah sampe dendam sama bangsa lain ya..

    • Iya Koh, takut salah-salah jadi dendam kan repot. Untung bocah udah pernah kenal langsung ama bermacam2 bangsa juga, jadi bisa lebih gampang nyeritainnya.

  2. Menurutku Indonesia itu malah ga dendam kesumat sama penjajahnya, malah kalau ketemu orang Belanda berasa saudara yang hilang. Repot pamer peninggalan Belanda sama stock Bahasa Belanda yang diadopsi ke Bahasa Indonesia.

    Kebencian menurutku lebih terasa sama Malaysia. Irlandia kesebelannya dengan Inggris tentang masa lalu juga lebih bitter daripada Indonesia.

    • Waaa, ni juga sama anehnya ama orang Indonesia yang benci dendam Tje. Kadang gw herman, mereka kok malah lebih londo dari londonya sendiri. Biasa aja keles..hehe.
      Yang aku pingin tekankan buat bocil itu kan mencari hikmah dari sejarah itu ya, tapi kenyataan memang banyak kejadian cinta buta dan dendam kesumat yg awkward๐Ÿ˜.

  3. INDONESIA memang indah mbak ๐Ÿ˜€

    Wahahaha ya bahaya juga sih mbak kalau si bocil nanti njawabnya gitu ๐Ÿ˜€ Nggak diterima sama pendidikan indo yang gini-gini aja ._.

    • Tul kan, Indonesia memang beautifull, makanya para londo itu ngiler pingin menguasai. Nah, tugas kita untuk menjaga dan merawat alam yang indah ini supaya tetap lestari, soalnya kadang aku juga mikir kalo Indoesia dikelola negara semaju mereka, jangan2 malah lebih makmur lho, hehe.
      Buat ujian anakku itu ntar yg jadi PR buatku juga nih, cara ngajarin ujiannya gmn, apakah sesuai textbook atw sesuai doktrinasi Ibuknya ug sok tau ini.

      • Beautifull banget ๐Ÿ˜€ ikonnya Indonesia aja, Bali itu mau di beli Beckham ๐Ÿ˜€ wkwkwk
        Ya itu, kita harus menjaga alam yang sebenernya luar biasa ini, cuma tinggal kitanya aja sih, alam udah berlimpah, masa mau disia-siain gitu? wkwkw

        Wahahaha ujian anak mbak malah jadi PR buat mbak juga ya ๐Ÿ˜€ wkwkwk

  4. ah sosmed. berita sekarang semudah memencet tombol share. jadilah pesan berantai yang tak diketahui ujung-pangkalnya. tentang sejarah, jadinya dilema ya.

    • Media sosial hanya jalur untuk berbagi. Sejarah yang ditulis menurut sudut pandang pelaku dan diceritakan turun-temurun memelihara kebencian bahkan dendam itu dari dulu hingga sekarang. Media sosial hanya mempermudah cari informasi.

      • iya mbak. maksud saya sebenarnya komentar dua hal. yg pertama tentang sosmed yg jd ajang penyampaian pesan berantai yg tak jelas ujung pangkalnya. yg kedua: komen tentang masalah yg dihadapi penulis. jadinya dilema gitu. makasih mbak. maaf kalo menimbulkan penafsiran yg berbeda.

      • Eheheh, kayanya krn salahku mencampurkan masalah socmed dg berita yg banyak hoaxnya dan sejarah yg membuat dilema krn banyak versinya nih. Maaf ya Em. Tp insyaAllah ngerti maksudnya kok. Makasih banyak๐Ÿ˜˜

    • Hehe, mungkin memang salah asuhan atau gaya penceritanya yg lebay Bang. Makanya saya berusaha hati2 cerita sejarah. Lha itu cerita G30S kan juga banyak yg gak bener, sampe saya dulu sempat benci banget ama PKI. Tapi pas baca buku2 “terlarang” malah saya sekarang jadi kasian ama pendukung PKI yg katanya banyak difitnah oleh “sejarah”. Eh, itu memang di Aceh Bang..sama juga kalik spotnya

  5. Hemm, bener juga, sejarah dapat dilihat seobjektif mungkin dengan melihat berbagai sumber, bukan hanya satu sumber saja. Kalau bicara sejarah ngomongin juga penulis sejarahnya. Begitu pula di era media sekarang, nggak bisa hanya dengan satu sumber, karena dibelakang media ada kepentingan redaktur. So pandai2 memilih dan memilah mana yang bener dan mana yg hoax. Btw gambar ilustrasinya mirip sama pemandangan di pulau komodo. Nice ๐Ÿ™‚

    • Tul, kredibilitas penulis merupakan salah satu hal yg harus diperhatikan dlm rangka menilai kebenaran suatu berita. Intinya tabayyun ya Fidh.
      Wow, pulau Komodo cuma lihat di foto temen, tapi sama biru dan cerahnya kaya foto Aceh itu ya.

  6. Zi, aku ga benci karo londo yo *ngelirik bojo haha
    Aku baru sadar tentang sejarah yang bisa mempunyai beberapa cerita dari sudut pandang yang berbeda ya setelah gede. Kalau dulu kan telan mentah apa yang diajarkan disekolah. Setiap tahun lihat film G30S PKI dibioskop bareng2 dikoordinir sekolah atau diberi tugas untuk nonton di TV. Akhirnya yang melekat ya cuman cerita itu. Pas sudah kerja baca-baca ternyata banyak versinya. Termasuk tentang kemerdekaan RI. Dari cerita suami, Indonesia tidak merdeka tahun 1945. Lah kan bedo maneh. Beberapa kali Suami menekankan “Belanda itu tidak menjajah, kami ingin membantu membangun Indonesia” lah yo akeh versi tho. Ga ngerti ini becanda atau ada benernya. Wah, iya ya. Pasti dirimu dilema piye mengajarkan sejarah ke anak-anak. Semoga yang terbaik Zi ๐Ÿ™‚

    • Issh, km mah jelas cinta Den, cinta mas bojo tapinya.
      Nah itu, bener kan. Bahkan orang Belanda pun punya versi sendiri ttg Indonesia, atw para korban keganasan sejarah yg syarat propaganda. Pingine bocah ngambil hikmah dr sejarah itu Den, dan timbul nasionalisme tapi yg bijak, gak cinta buta.

  7. Eh, ada Geurutee! Ingat bangetlah saya dengan tempat satu itu, kayaknya lokasinya sama dengan tempat saya mengambil foto untuk beberapa postingan blog ini :haha.
    Mbak Yo pernah bilang juga, kalau sejarah ditulis oleh para pemenang. Jadi yah… tidak heran kalau banyak yang dibelokkan, baik secara samar-samar maupun terang-terangan kayak “buku putih”. Makanya independensi sejarawan itu penting banget, karena sejarawan ibarat hakim, ia yang menentukan bagaimana masa lalu itu akan ditampakkan. Selama sejarawan masih disetir oleh kekuatan pemenang itu, ya penulisannya akan bias.
    Soal penjajahan, kalau menurut saya sih penjajahan itu sebenarnya cuma diskriminasi berbalut ambisi dan ego manusia. Kalau seandainya dulu itu bangsa Eropa tidak datang dengan semangat “saya lebih tinggi statusnya di atas inlander”, kayaknya jalan cerita bangsa ini akan jadi agak lain :hehe.

    • Spotnya poto di Aceh ini kayanya emang terkenal ya Ga, Bang Jampang juga punya ni poto lho.
      Iyes Ga, aku bikin postingan ini juga terinspirasi ama jawaban Mb Yo untukmu, sejarah milik para pemenang. Jadinya emng sering bias penafsiran klo gak banyak baca versi yg lain.
      Well, penjajahan menurut versimu aku setuju Ga, dan kadang aku ngerasa kalo bangsa Indonesia ini mungkin lebih buruk dari penjajah kalo diterusin kondisinya kaya gini, gak merawat dan menjaga alamnya.

  8. Bagus posnya Za dan makasih mention posku. Memang sebisa mungkin kita menerangkan menurut fakta yang kita tahu tanpa emosi, secara faktual maksudnya. Bahwa memang betul Belanda, Spanyol, Inggris, Perancis, Portugis itu kolonis dengan jajahan mereka dimana-mana. Aku masih inget waktu kelas 5 SD bapakku cerita tentang kolonialisme dan dia kasih lihat aku peta Afrika. Batas negara-negara Afrika itu lurus seperti digambar dengan penggaris ๐Ÿ˜‰

    Btw, anakku juga rada shock waktu dia kelas 3 SD dan aku jelaskan dalam kosa kata yang dia bisa ngerti tentang Belanda menjajah Indonesia dan sejarah dari keluarga papanya.

    • Terimakasih mbak Yo..
      Fakta yang faktual itulah yang harus kita cari ya, no propaganda dan gosip.
      Waduh, sejarah Afrika lebih berwarna lagi ini, ntar aku baca lagi Mbak.
      Anak Mbak Yo bisa jadi sama shocknya kaya aku yg dibecandain temen kalo aku mungkin “Cina”. Sejarah keluarga suami mb Yo juga berwarna ya, suka baca pernak pernik keluarga Indo, budayanya unik.

    • Salam kenal juga Fitri๐Ÿ˜Š
      Iyes, setahuku mmng VOC berbeda ya dr Belanda as a state. Nah, dr situ aja udah banyak yg salah paham gr2 sejarah yg kurang “bener”.

  9. Iya kadang repot njelasin sesuatu yang beda dengan versi populer, dan kita tidak ingin ybs dapat kesulitan gara-gara penjelasan [yang berani tapi tidak asal beda] itu. Lalu jadi mikir sendiri: “Lha trus piye, jal!?
    Tapi pokoknya akur: Indonesia indah!

    • Yep, emang kayaknya sang emak rempong ini juga harus membuka buku-buku sejarah lagi. Sebisanya bercerita di alur yang faktual, plus ngajarin bocilnya dg fakta dan datanya jg. Semoga gurunya tetep apreciate dgn jawaban bocah wlpn mungkin sedikit beda dg buku sekolah.

  10. Nice post mbk ze, saya juga harus mulai baca-baca buku sejarah lagi nih. Jaga2 kalau anak nanya dan biar tambah pinter emaknya, hihi… Secara ak dlu paling ga suka sejarah ๐Ÿ˜ฆ

  11. Bener banget Mbak, sejarah zaman dulu banyak yg dibelokkan. Sebagai contoh yg lagi hangat terjadi di tanah air saat ini adalah tanah kelahiran Bung Karno. Dalam buku PSPB SD kurikulum 1994, disebutkan bahwa Ir. Sukarno lahir di Kota Blitar. Demikian pula beberapa museum sejarah dan buku biografi sang proklamator menuliskan bahwa Bung Karno dimakamkan di kota kelahirannya sendiri yaitu Blitar. Hal inilah yg menyebabkan penulis pidato kenegaraan (Sukardi) dalam pidato yg dibacakan oleh Presiden Jokowi pada hari peringatan hari lahirnya Pancasila 1 Juni silam kalau Blitar adalah kota kelahiran Bung Karno. Ternyata dewasa ini beberapa buku dan Wikipedia menyebutkan kalau kota kelahiran Bung Karno yang sebenarnya adalah Surabaya. Sontak kesalahan pidato Presiden Jokowi menuai kemarahan para netizen di berbagai media sosial.

    Salam untuk Bocil ya Mbak. Mbak sudah mengajarkan yang benar kepada anak sendiri. Mbak patut ditiru. (Y)

    • Wah, ini nih..
      Lagi ngehists banget ya, saya sampe bingung mo komen apa. Tapi yang menyebalkan, saling silang info ini dipolitisir banget. Bukan malah berlomba2 meneliti fakta dan bukti sejarah yg otentik, tapi kompetisi menghujat, lha kapan benere iki..
      Terimakasih ya Mas.

      • Iya Mbak. Seharusnya para netizen meninjau kembali buku2 pelajaran sejarah zaman dulu supaya nggak asal jeplak aja menyalahkan orang seenaknya. Apalagi situasi Presiden Jokowi lagi maraknya demo penggulingan yang dilakukan para mahasiswa.

        Sama-sama Mbak. Semoga kita tidak terpengaruh oleh orang-orang yang suka membolak-balikkan sejarah yang belum tentu kebenarannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.