Buat Apa MCU?

Wait, ini bukan iklan, ini cuma sharing pengalaman.

-disclaimer dari seorang lebayer Indonesia-

Sudah pernah Medical Check Up (MCU)?Apa to MCU itu? MCU adalah program pemeriksaan kesehatan yang bertujuan untuk mengetahui status kesehatan seseorang, selain untuk mendiagnosis gejala dini atau mengobati penyakit. Prosedur MCU dilakukan dengan cara wawancara riwayat kesehatan dan pemeriksaan pendukung seperti tes darah, urine, rontgent, dan lain-lain sesuai kebutuhan.

Biasanya dokter akan mewawancarai customer mengenai riwayat kesehatan dengan menanyakan kondisi kesehatan secara umum, operasi yang pernah dilakukan, dan jenis obat-obatan yang pernah dikonsumsi. Selain itu gaya hidup yang dijalani, seperti pola makan, istirahat, olahraga, serta kemungkinan konsumsi rokok dan alkohol. Tak lupa penyakit yang biasanya ada di keluarga untuk mendeteksi resiko kecenderungan penyakit akibat pola genetis.

Setelah wawancara riwayat kesehatan, dokter akan melakukan tes pendukung seperti pengukuran tekanan darah, detak jantung, tes darah, tinggi badan, berat badan, plus tes darah, urine, dan rontgent bila diperlukan.

Jenis-jenis MCU pun bervariasi tergantung keperluan dan permintaan customer. Beberapa jenis MCU yang udah pernah gw jalani adalah MCU Penerimaan Pegawai (kesehatan umum, narkoba, paru-paru), MCU Pranikah (HIV/AIDS, Rhesus, Hepatitis, PMS), MCU Rutin dari kantor (gula darah, jantung, kolesterol, paru-paru), MCU Permohonan Visa (paru-paru, pemeriksaan kesehatan umum), MCU untuk Wanita Dewasa (pemeriksaan umum, kanker serviks), dan yang terbaru adalah MCU Rubella (Campak Jerman).

Dari beberapa MCU tersebut, ada yang gw lakukan atas inisiatif pribadi, dan ada yang gw lakukan karena tuntutan suatu instansi. Untuk MCU yang bersifat pribadi, awalnya gw lakukan karena pengaruh Mas Suami yang super duper kelewatan sikap hati-hatinya. Kekhawatiran beliau memang kadang berlebihan, tapi kalo dipikir-pikir memang masuk akal. Bagi gw pun, selama ada rejeki untuk melakukan MCU tersebut, gw akan jalani supaya ketenangan hati mengenai kondisi kesehatan tubuh kami lebih terpantau.

Dulu sekali, gw pernah tersinggung dengan permintaan beliau untuk MCU Pranikah yang mengharuskan kami tes darah untuk memeriksa apakah kami kena HIV/AIDS, Rhesus, Hepatitis, dan PMS( Penyakit Menular Seksual). Rasa marah karena merasa gak dipercaya akan pola hidup sehat dan perilaku, mendera pikiran gw karena stigma bahwa yang seharusnya tes macam itu adalah orang yang beresiko tinggi terpapar HIV/AIDS, Hepatitis, dan PMS. Selain itu biaya MCU yang cukup tinggi juga bikin gw mengkeret sambil bayangin duit sebanyak itu bisa gw pake buat bikin kebaya cantik atau nambahin budget makanan tamu.

Tapi toh MCU itu tetep  dilakukan karena walopun waktu itu gw merasa yakin akan keadaan tubuh, tapi gw gak mau beresiko buta terhadap kondisi kesehatan. Apalagi setelah pernikahan, ada tahap yang lebih kompleks karena menyangkut kondisi kesehatan orang-orang disekeliling gw macam suami dan anak-anak.

Dan waktu itupun, seinget gw, kami pernah berdiskusi bila nanti hasil MCU Pranikah ini tidak seperti yang kami harapkan, maka kami harus saling jujur dan fair untuk memikirkan ulang keputusan kelanjutan hubungan kami. Alhamdulillah hasil MCU Pranikah itu sesuai harapan kami yang menyatakan kami sehat dan golongan Rhesus pun sama.

Kalo dipikir-pikir lagi, MCU ini sebenernya mengandung hal lebih jauh dari sekedar mengetahui kondisi kesehatan. Buat gw, MCU adalah deteksi dini dan observasi perilaku gw sehari-hari. Pola makan gw yang masih sembarangan tercantum dalam angka kolesterol yang mendekati ambang batas bahaya, kebiasaan kurang olahraga dan kurang minum air putih juga mempengaruhi keadaan ginjal gw.

Untuk penyakit yang menyebar melalui virus dan bakteri, Mas Suami punya pengalaman (dan kekhawatiran) lebih banyak. Lingkup pergaulannya yang lebih luas dan lebih heterogen vs kehati-hatian beliau menjaga kesehatan dirinya, malah kadang membuat beliau pingin melakukan MCU macem-macem untuk memastikan semuanya baik-baik saja.

Beliau tahu tentang ilmu menjaga kesehatan diri dan teori penyebaran penyakit, namun pikiran tentang suatu sebab abnormal ataupun takdir yang tidak terduga akan selalu ada. Contohnya ketika wabah Ebola menyerang sebagian benua Afrika tahun lalu.

Ketika itu, justru banyak pelajar Afrika yang masih menimba ilmu di United Kingdom, dan mereka masih rutin mudik tanpa terpengaruh isu Ebola tersebut. Mas Suami yang kadar awarenessnya tinggi, memilih untuk menghindar bersalaman dengan kebanyakan teman dengan alasan bahwa dia sedang tidak fit kondisi tubuhnya. Gw yang merasa awareness ini berlebihan akhirnya sempat menegur Mas Suami, takut beliau mendzolimi diri sendiri dengan pikiran berlebihannya itu, serta takut akan ada teman yang tersinggung dengan sikap yang dipilihnya.

Tapi beliau berkata kalo hal ini dilakukannya karena memang Ebola mudah menyebar melalui cairan tubuh seperti keringat, dan waktu itu memang Mas Suami sering mengalami mimisan akibat udara kering bulan Oktober. Jadi, baginya lebih safe menjaga diri dengan perilaku hati-hati daripada menyesal dikemudian hari. Karena efek kesehatan diri kita pasti akan berpengaruh terhadap orang-orang disekitar kita, entah itu keluarga ataupun lingkungan hidup sehari-hari.

Tujuan dari MCU yang pernah gw lakukan pun bukan untuk menghakimi diri atas keteledoran menjaga kesehatan. Karena memang suatu penyakit kadang tetap datang walaupun sudah kita usahakan menghindarinya. Ini hanya salah satu ikhtiar memperlakukan tubuh kita dengan baik, karena biasanya setelah hasil MCU ada di tangan, gw lebih berhati-hati menjaga pola makan.

Selain itu, bila ternyata hasil MCU memberikan kita berita sedih tentang keadaan tubuh kita, setidaknya kita akan lebih tahu cara yang layak untuk memperlakukan tubuh ataupun berhati-hati untuk tidak membahayakan lingkungan sekitar bila kita ternyata membawa suatu penyakit yang mudah menular.

Tau diri, ketika pernah menjadi tersangka pembawa virus

Sadari kesehatan diri, lakukan MCU untuk deteksi dini. #edisi slogan sebuah lab kesehatan

47 thoughts on “Buat Apa MCU?

  1. Semuanya dimulai dari diri sendiri, kalau bukan kita sendiri yang menjaga, siapa lagi yang bisa? Simpelnya sih gitu 😀 aku juga melakukan MCU pranikah. Aku yang minta haha. Sama keluargaku sih dianggap aneh. Tapi kan ya mending jaga2 daripada daripada kan ya nantinya. Dan samaa, aku dan suami juga punya kesepakatan, kalau hasilnya akan merugikan salah satu pihak, mending ga usah dilanjutkan. Sadis sih. Deg2an juga nunggu hasilnya. Takut ga jadi beneran haha.

    • Paling deg2 an mmng MCU Pranikah ya Den, tapi apapun hasilnya kan juga utk kebaikan kita. Waktu itu malah Mas Suami yg khawatir ama hasil lab dia, abis dianya yg lebih parnoan. Dan diskusi pahit buat mengantisipasi hasil yg menyedihkan pun penuh airmata, drama queen wes..
      Den, setahuku yg cenderung beda Rhesus itu utk pernikahan internasional ya?

  2. Sangat-sangat aware. Tak banyak orang yang berpandangan sepertimu, Mbak, bahkan saya pun tidak, soalnya kalau MCU malah takut terlihat nanti ada penyakitnya, terus pola pikir yang kadang kita belum perlu tahu bahwa ada sesuatu yang salah, takutnya kalau sudah tahu yang ada malah khawatir berlebihan terus jadi stres dan mengganggu kehidupan sehari-hari yang pada akhirnya memperburuk masalah di awal tadi :huhu.

    Tapi kalau kita tidak tahu… nanti sekalinya tahu sudah terlalu terlambat… ah, ada mind set yang harus saya ubah. Terima kasih, ini membuka mata sekali!

    • Iya Ga, banyak kok temenku yg takut MCU jg krn hasilnya kaya rapor kondisi kesehatan. Hasil MCU ku pun banyak angka merahnya, tapi buatku justru ini peringatan. Kalo mo sehat sampe tua ya harus mau berubah lebih baik mmperlakukan tubuh. Tapi ya nikmatin aja, gak usah ngoyo Ga. Btw, postcardnya nyampe gak Ga?

      • Iya sih, lebih baik tahu berita buruknya sekarang ketimbang nanti-nanti ya, di saat sudah bahaya malah tidak bisa melakukan apa-apa.

        Astaga saya lupa balas e-mailnya yang kemarin dulu :hehe. Belom Mbaaaaa… hwaa nyasar di mana ya Mbak :huhu. Dulu Mas Ryan juga pernah kirim kartu pos tapi nasibnya sama, belum sampai jua sampai sekarang.

      • Heheh, kalo takut dibagi rapornya ya harus strict jaga kesehatan Ga. MCU kan cuma salah satu ikhtiar, usaha buat observasi kesehatan aja. Hiks, kasih alamat rumah aja po? Atau nama lengkap biar nyampe.
        #nyari postcard lg

      • Iyah, bagaimanapun kesehatan perlu selalu dijaga dengan berbagai cara, salah satunya MCU ini ya Mbak :hehe.

        Tidak usah Mbak, terima kasih banyak :hehe, santai saja, postcard itu pasti sampai :)).

    • Haha, banyak temen gw jg gitu kok Fe. You’re not alone!
      Gw jg kadang takut liat angka kolesterol sering gak terkendali, tp lebih takut kalo tiba2 kena stroke😭

  3. Penting MCU ini Zi. Cuma selama ini memang pikiran bikin males mcu. Terakhir mcu pas balik dari Afrika karena yang dirimu sebut tuhh. Sama pas apply asuransi.

    Soal mcu HIV/AIDS n penyakit kelamin menular lain lebih parah lagi ya stigma nya. Orang cek kesehatan masa dicurigai. Dah bagus loh mereka mau cek. stdknya mereka nunjukkin kalau mereka bertanggungjawab atas kesehatannya dan juga ksehatan org di sekitarnya ya.

    • Waow, apalagi lo langsung dr Afrika ya. Suamiku udh parno berat ama temen2nya Ry, sampe pingin MCU mcm2 gt.
      Dan setuju bgt ama pendapat lo, MCU justru sbg bentuk tanggungjawab kesehatan diri dan sosial. Ngeri aja kalo krn suatu penyakit bisa menular tanpa sengaja krn si pembawa gak nyadar dia sakit.😖

      • Parno ya. Padahal org2 lokal sananya tuh… Lebih parno banget. Hahaha. Pengalaman berharga Zi. 😀
        Itu dia. Pas di Liberia sana gw ngeh satu hal. That HIV/AIDS exist. Mereka ada karena orgnya gak peduli sama semuanya. Mereka dg mudahnya begitu. Balik Indonesia, gw lihat, rata2 tahu bahayanya. Tapi sm aja. Pada gak mau memeriksakan diri dengan alasan apapun itu. Dan ini mnrt gw bahaya laten.

      • Ry, gw jadi kepo ama pengalaman lo dsana. Udah ditulis blm?
        Kt Suamik, saking menyebarnya HIV/AIDS di sono, mereka nganggepnya kaya flu aja gt. Yg kasian pastinya anak2 dan generasi mudanya ya.

    • Setahuku wajib MCU Mas Sugih, apalagi klo tujuannya ke negara2 maju disyaratin MCU. Mas Sugih, banyak kok yg takut MCU, tp gak usah jd pikiran. Itu kan hanya salah satu ikhtiar kita buat tau kondisi kesehatan. Selama bisa jaga kesehatan yo lanjut ajalah.

      • Sebenarnya sih memang gak perlu takut karena saya bukan perokok ataupun penggemar narkoba. Cuma saya paling takut setiap melaksanakan tes darah. Suka ngeri sendiri kalau ngebayangin darah apalagi melihatnya. Fobia yang berlebihan ya..
        Terima kasih spiritnya ya Mbak 🙂

    • Di form syarat penerimaan kerja biasanya disebut MCU atw tes kesehatan sih Feb, jadi menurutku sama. Haha, kayanya sih sehat fisik, tapi jiwa mbuh..😝.
      Ndak deng, insyaAllah sehat lah, seorang mahasiswa teknik yang blogger? Butuh fisik dan jiwa yg sehat bgt tuh!

      • Jadi aku terakhir MCU waktu tahun 2012 dulu, dan kayaknya sehat-sehat aja. Kalau hatinya, embuh ya mbak. Udah mengalami beberapa peperangan hati, jadi, ya gitu deh wkwkwk

        InsyaAllah sehat semua deh mbak 😀
        Wahahaha iya mbak, butuh banget dan harus diseimbangin mbak ._. wkwkw

  4. Terkadang penyakit itu berkembang tanpa disadari, begitu sudah parah baru ketahuan. MCU jadi sangat penting untuk deteksi dini, tapi banyak orang malas MCU itu biasanya karena keberatan biayanya, hehe.. Sayang asuransi apapun tidak menanggung MCU atas permintaan sendiri ya.

  5. MCU sebenernya bagus buat memantau kondisi dan menindak lanjuti kalau ada yang perlu di follow-up. Sayang di negara saya tinggal (Norway) nggak kenal istilah MCU….saat saya tanya dokter mereka malahan bengong….dan bilang kalo itu nggak penting…dan rada buang2x duit, mungkin karena di sini berobat gratis yah dan biaya dokter aslinya mahal jadi mereka maunya hemat, entahlah. Salam kenal ya mbak.

    • Salam kenal Felicity.
      Di UK jg pengobatan gratis, tp sy pernah dpt fasilitas cek kanker serviks itu lho. MCU mmng mahal, jd memang tergantung prioritas masing2 orang jg ya. Klo saya, krn tukang makan sembarang, jd merasa perlu cek kolesterol sering2.😁

Leave a Reply to denaldd Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.