Matikan Kalkulatormu

Beberapa bulan kembali ngantor, tapi nglirik rekening gaji masih minus itu rasanya mulesi😁. Gimana enggak, kebutuhan kembali ke “markas” dan rutin bulanan sudah menanti, tapi birokrasi tetaplah harus ditaati.

Perjalanan surat penempatan kerja gw sebagai karyawan harus melewati jalur panjang dan (cukup) lama. Yah, itulah birokrasi. Jalan tengahnya ya harus “fasten your seatbelt” sampai bendahara kantor bisa mengabarkan bahwa sekarang kulit manggis ada ekstraknya.

Penghiburan dari beberapa teman yang menyarankan gw untuk bersabar, dan harapan bahwa sesuatu akan indah pada waktunya merupakan gizi cukup ampuh buat otak gw mengatur mindset.

Yep, mindset sebagai seseorang tanpa penghasilan, akan berdampak besar dalam proses membelanjakan uang yang sumbernya sekarang hanya dari transferan. Walaupun sempat beberapa kali terjadi miscalculation karena kebutuhan Lebaran yang tidak toleran. Bokek book.

Penghiburan lain, dari seorang teman, bahwa kalo sekarang belom gajian, berarti suatu saat akan rapelan. Kalkulatorpun berjalan, menghitung pundi-pundi uang.

Gw bilang, jangan gitu Sayang. Matikan kalkulator itu, kalau perlu, buang. Yah, sebagai seorang yang pernah merasa dikecewakan, gw takut dalam hal menghitung uang.

Takut bila ternyata gak sesuai harapan, takut bila ternyata banyak potongan, dan takut kenyataan, halah..

(Ahh, udah cukup berimanya, susah ternyata..)

Yeah, itulah yang terjadi selama beberapa bulan ini. Bokek berat karena belum gajian, tapi kadang mindset masih pegawe kantoran. Wich is kadang makan siang masih pingin yang enak dan mahal, liat olshop fashion langsung jelalatan.

Mindset gw yang salah, karena dalam lubuk hati terdalam masih tersimpan harapan rapelan dengan angka sekian-sekian, seharusnya bisa ditepiskan. Mindset itu kadang bikin gw berasa matre karena kerja cuma ngarep bayaran. Walaupun itu 99,99% benar.

Padahal ya, gw sering ngomongin junior magang di kantor gw, bahwa jangan sampe mereka udah ngitung rapelan. Selain ora elok, hal itu bisa bikin mereka membayangkan hal-hal yang cenderung konsumtif, bukan produktif. Ya iyalah, belum nerima duitnya, tapi udah rencana mo beli apa-apa.

Baiklah, berencana itu boleh. Cermat berhitung itu juga harus. Namun, ada hal lain yang juga harus diingat. Resiko dan biaya. Dalam ilmu hitung ramal meramal, dua faktor ini mempunyai andil. Ada yang besar, dan ada yang kecil, sesuka kita ajalah. Yang jelas, dua hal ini tak patut disingkirkan.

Gw kasih contoh aja, grade penghasilan gw ternyata diturunkan setelah kembali dari cuti, itu resiko. SK penempatan gw ternyata tak berlaku surut, dan akibatnya, dua bulan gw ngantor -sebelum SK tersebut terbit-pun gak dibayar, dan gw terima hal tersebut sebagai resiko.

Sebenernya ada beberapa jalur untuk meminimkan resiko, dengan mengikuti peraturan yang sudah dibuat. Karena pada dasarnya, peraturan merupakan guidance kita melaksanakan sesuatu.

Seperti dalam kasus gw, mengajukan surat pengaktifan pegawai sebelum cuti berakhir, sehingga proses birokrasi pengaktifan pegawai itu sudah selesai ketika gw balik ngantor. Karena beberapa hal, memang gw terlambat mengajukan surat tersebut ke kantor, ya wes itu salah gw dong.

Yang kedua, karena peraturan penurunan grade penghasilan itu memang sudah tertulis dalam kitab kepegawaian, maka sudah sepatutnya gw legowo menerima keputusan penyunatan tunjangan penghasilan.

Nah, sudah ada yang mau bantu bikin posko koin bantuan gak?

#ngarep😁😁20150430094320

Buat Apa MCU?

Wait, ini bukan iklan, ini cuma sharing pengalaman.

-disclaimer dari seorang lebayer Indonesia-

Sudah pernah Medical Check Up (MCU)?Apa to MCU itu? MCU adalah program pemeriksaan kesehatan yang bertujuan untuk mengetahui status kesehatan seseorang, selain untuk mendiagnosis gejala dini atau mengobati penyakit. Prosedur MCU dilakukan dengan cara wawancara riwayat kesehatan dan pemeriksaan pendukung seperti tes darah, urine, rontgent, dan lain-lain sesuai kebutuhan.

Biasanya dokter akan mewawancarai customer mengenai riwayat kesehatan dengan menanyakan kondisi kesehatan secara umum, operasi yang pernah dilakukan, dan jenis obat-obatan yang pernah dikonsumsi. Selain itu gaya hidup yang dijalani, seperti pola makan, istirahat, olahraga, serta kemungkinan konsumsi rokok dan alkohol. Tak lupa penyakit yang biasanya ada di keluarga untuk mendeteksi resiko kecenderungan penyakit akibat pola genetis.

Setelah wawancara riwayat kesehatan, dokter akan melakukan tes pendukung seperti pengukuran tekanan darah, detak jantung, tes darah, tinggi badan, berat badan, plus tes darah, urine, dan rontgent bila diperlukan.

Jenis-jenis MCU pun bervariasi tergantung keperluan dan permintaan customer. Beberapa jenis MCU yang udah pernah gw jalani adalah MCU Penerimaan Pegawai (kesehatan umum, narkoba, paru-paru), MCU Pranikah (HIV/AIDS, Rhesus, Hepatitis, PMS), MCU Rutin dari kantor (gula darah, jantung, kolesterol, paru-paru), MCU Permohonan Visa (paru-paru, pemeriksaan kesehatan umum), MCU untuk Wanita Dewasa (pemeriksaan umum, kanker serviks), dan yang terbaru adalah MCU Rubella (Campak Jerman).

Dari beberapa MCU tersebut, ada yang gw lakukan atas inisiatif pribadi, dan ada yang gw lakukan karena tuntutan suatu instansi. Untuk MCU yang bersifat pribadi, awalnya gw lakukan karena pengaruh Mas Suami yang super duper kelewatan sikap hati-hatinya. Kekhawatiran beliau memang kadang berlebihan, tapi kalo dipikir-pikir memang masuk akal. Bagi gw pun, selama ada rejeki untuk melakukan MCU tersebut, gw akan jalani supaya ketenangan hati mengenai kondisi kesehatan tubuh kami lebih terpantau.

Dulu sekali, gw pernah tersinggung dengan permintaan beliau untuk MCU Pranikah yang mengharuskan kami tes darah untuk memeriksa apakah kami kena HIV/AIDS, Rhesus, Hepatitis, dan PMS( Penyakit Menular Seksual). Rasa marah karena merasa gak dipercaya akan pola hidup sehat dan perilaku, mendera pikiran gw karena stigma bahwa yang seharusnya tes macam itu adalah orang yang beresiko tinggi terpapar HIV/AIDS, Hepatitis, dan PMS. Selain itu biaya MCU yang cukup tinggi juga bikin gw mengkeret sambil bayangin duit sebanyak itu bisa gw pake buat bikin kebaya cantik atau nambahin budget makanan tamu.

Tapi toh MCU itu tetep  dilakukan karena walopun waktu itu gw merasa yakin akan keadaan tubuh, tapi gw gak mau beresiko buta terhadap kondisi kesehatan. Apalagi setelah pernikahan, ada tahap yang lebih kompleks karena menyangkut kondisi kesehatan orang-orang disekeliling gw macam suami dan anak-anak.

Dan waktu itupun, seinget gw, kami pernah berdiskusi bila nanti hasil MCU Pranikah ini tidak seperti yang kami harapkan, maka kami harus saling jujur dan fair untuk memikirkan ulang keputusan kelanjutan hubungan kami. Alhamdulillah hasil MCU Pranikah itu sesuai harapan kami yang menyatakan kami sehat dan golongan Rhesus pun sama.

Kalo dipikir-pikir lagi, MCU ini sebenernya mengandung hal lebih jauh dari sekedar mengetahui kondisi kesehatan. Buat gw, MCU adalah deteksi dini dan observasi perilaku gw sehari-hari. Pola makan gw yang masih sembarangan tercantum dalam angka kolesterol yang mendekati ambang batas bahaya, kebiasaan kurang olahraga dan kurang minum air putih juga mempengaruhi keadaan ginjal gw.

Untuk penyakit yang menyebar melalui virus dan bakteri, Mas Suami punya pengalaman (dan kekhawatiran) lebih banyak. Lingkup pergaulannya yang lebih luas dan lebih heterogen vs kehati-hatian beliau menjaga kesehatan dirinya, malah kadang membuat beliau pingin melakukan MCU macem-macem untuk memastikan semuanya baik-baik saja.

Beliau tahu tentang ilmu menjaga kesehatan diri dan teori penyebaran penyakit, namun pikiran tentang suatu sebab abnormal ataupun takdir yang tidak terduga akan selalu ada. Contohnya ketika wabah Ebola menyerang sebagian benua Afrika tahun lalu.

Ketika itu, justru banyak pelajar Afrika yang masih menimba ilmu di United Kingdom, dan mereka masih rutin mudik tanpa terpengaruh isu Ebola tersebut. Mas Suami yang kadar awarenessnya tinggi, memilih untuk menghindar bersalaman dengan kebanyakan teman dengan alasan bahwa dia sedang tidak fit kondisi tubuhnya. Gw yang merasa awareness ini berlebihan akhirnya sempat menegur Mas Suami, takut beliau mendzolimi diri sendiri dengan pikiran berlebihannya itu, serta takut akan ada teman yang tersinggung dengan sikap yang dipilihnya.

Tapi beliau berkata kalo hal ini dilakukannya karena memang Ebola mudah menyebar melalui cairan tubuh seperti keringat, dan waktu itu memang Mas Suami sering mengalami mimisan akibat udara kering bulan Oktober. Jadi, baginya lebih safe menjaga diri dengan perilaku hati-hati daripada menyesal dikemudian hari. Karena efek kesehatan diri kita pasti akan berpengaruh terhadap orang-orang disekitar kita, entah itu keluarga ataupun lingkungan hidup sehari-hari.

Tujuan dari MCU yang pernah gw lakukan pun bukan untuk menghakimi diri atas keteledoran menjaga kesehatan. Karena memang suatu penyakit kadang tetap datang walaupun sudah kita usahakan menghindarinya. Ini hanya salah satu ikhtiar memperlakukan tubuh kita dengan baik, karena biasanya setelah hasil MCU ada di tangan, gw lebih berhati-hati menjaga pola makan.

Selain itu, bila ternyata hasil MCU memberikan kita berita sedih tentang keadaan tubuh kita, setidaknya kita akan lebih tahu cara yang layak untuk memperlakukan tubuh ataupun berhati-hati untuk tidak membahayakan lingkungan sekitar bila kita ternyata membawa suatu penyakit yang mudah menular.

Tau diri, ketika pernah menjadi tersangka pembawa virus

Sadari kesehatan diri, lakukan MCU untuk deteksi dini. #edisi slogan sebuah lab kesehatan

Mulesnya Tuh Disini

Yep, udah beberapa hari ini gw ngerasain mules-mules hampir tiap selesai makan atau minum. Kejadian luar biasa buat gw yang udah beberapa bulan merasa sehat di wilayah saluran pencernaan.

Ya tapi gimana enggak mules sih, gw yang udah usaha buat masak atau bawa makanan dari rumah ini tetep aja masih kemasukan banyak makanan penggoda selera dari para penjaja kuliner nusantara. Dan kulinaria favorit tentu saja para warung tepi jalan yang murmer tapi endess gilak.

Hampir dua bulan ini, gw udah kemasukan bakso, nasi goreng dan sate Padang, begor (bebek goreng), martabak, mie Jowo, dan seafood macam kerang dan udang. Okelah, ini sih belum sebanding ama pengalaman kuliner para pecinta makanan lainnya, tapi masa gw mau kalap langsung templok sana-sini mengejar kenikmatan lidah sih😁.

Tantangan senikmat itu belum sanggup gw jalankan, karena selain pingin menjaga kestabilan ekonomi keluarga (ngirit lagi), juga harus pelan-pelan menyesuaikan perut ama kondisi perkulineran umum di Indonesia dong.

Gaya amat sih Neng? Haha, beneran gaya emang. Soalnya kalo gak, bisa-bisa pengalaman beberapa temen yang masuk UGD gara-gara kalap jajan di emperan malah kejadian juga dong. Eh, jangan sampe deh.

Mengingat kondisi para warung yang jadi favorit selama ini memang harus hati-hati dan pelan-pelan saja adaptasinya. Karena mereka terletak di wilayah strategis yang dekat dengan jalur transportasi (baca: pinggir jalan) maka kebersihan pun kadang kurang terjaga. Pun demikian dengan ingredients yang terkandung dalam makanannya, dari minyak goreng yang (biasanya)udah kesekian kali pakai sampe monosodium glutamate yang (mungkin) gak ketinggalan diguyurkan dalam makanan.

Hal itu memang gak menyurutkan nyali gw jajan sih, cuma harus sabar menyesuaikan kalo mo menikmati makanan-makanan endess penggugah selera. Prosesnya salah satunya dengan mules-mules ini ya, si cacing dalam perut protes karena gw udah mulai makan sembarangan, at least makan buatan orang yang beda standart masaknya ama gw.

Hah, gw ini memang gak bisa masak macem-macem, dan proses mengolah makanan pun biasa banget. Tapi dari situ malah perut ini anteng-anteng aja menyantap sajian gak neko-neko.

Tadinya udah punya tekad, untuk mulai menjaga asupan makanan yang lebih sehat. Pingin masak sendiri semuanya, atau paling nggak, jajan makanan yang baik aja (baik di kantong, baik di rasa, baik di perut..maunya😝). Tapi ya gitu deh, niat mulia ini hanya terealisasikan ketika sarapan. Tiba saatnya brunch, atau makan siang, atau sore-sore, itu seluruh snack dan warung sudah melambai-lambai minta disantap.

Hal ini sempat gw akalin dengan puasa, paling enggak, dapat melakukan ibadah sekalian ngencengin tekad menahan diri dari godaan para begor dkk buat makan siang. Etapi mereka tetep aja lolos sensor ketika kumandang adzan maghrib bergema. Gw tetep aja minggirin motor mampir warung Padang, atau pesen bungkus Mie Jowo yang anget-anget mengepul, hmm, yummy.

Nas Gor Padang, enake pol😘

Nas Gor Padang, enake pol😘

Hal lain yang bikin nyesek perut adalah obsesi gw ama cabe-cabean. Hampir tiap makan ditemenin mereka, buat nambah nafsu makan ceritanya. Dan cabe yang gw makan, biasanya berlevel advance. Udah hampir dipastikan dahi bercucuran keringat, dan bibir jadi merona karena kepedesen.

Salah sendiri kalo gitu dong. Niatnya masih setengah-setengah, udah gitu godaannya berat banget ngelawan kuliner Indonesia yang maknyuss ini. Huhu, aku kudu piye?

#nggrundel gak jelas

No Hoax Please!

“Bu, Inggris itu negara penjajah ya?”

“Bu, orang Indonesia dulu menang melawan Belanda ya?”

Eitz, tunggu dulu Nak, Ibu bener-bener bingung harus jawab apa untuk pertanyaanmu ini.

Kenapa harus bingung sih? Tinggal ceritain aja sejarah tentang kemerdekaan Indonesia sesuai buku sejarah SD kita. Hmm, benarkah segampang itu? Gak yakin gw.

Sebagai tukang mikir hal-hal kurang penting, gw beranggapan kalo sejarah yang ditulis di sebagian besar buku sekolah dulu (dan kini mungkin), banyak yang dibelokkan. Banyak hal yang menurut gw ditulis dengan tujuan propaganda suatu kepentingan. Jadi akhirnya susah untuk menilai kebenaran suatu sejarah bila kita tidak banyak membaca versi lain dari penulis lainnya.

Hal ini terjadi juga sampe sekarang, media sudah banyak yang ditunggangi oleh pihak-pihak yang mempunyai misi tertentu. Gw sampe skeptis sendiri, dan harus banyak mencari sumber berita yang lain untuk menyimpulkan kebenaran suatu berita.

Yang menyebalkan, karena skeptis terhadap “media resmi”, gw sempat beralih untuk percaya pada berita yang menyebar di media sosial. Gw pikir medsos lebih bersih dari kepentingan karena pembuat berita biasanya mengalami kejadian itu secara personal, atau katakanlah sebagai tangan pertama. Tapi ternyata sama aja, bahkan bisa dibilang lebih buruk karena banyak berita hoax yang bisa ditemukan di ranah media sosial.

Balik lagi ke soal sejarah. Dengan alasan ini gw merasa untuk menyampaikan “sejarah” yang berkepentingan ini harus hati-hati, terutama pada generasi muda. Jangan sampai salah tangkap dan akhirnya jadi cinta buta ataupun dendam turun temurun seperti cerita Mbak Yoyen disini:
https://chezlorraine.wordpress.com/2015/05/27/turun-temurun/.

Ketika bocil nanya tentang cerita bangsa Indonesia, dari jaman penjajahan sampe proses kemerdekaan pun, gw berusaha netral dengan mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan kesuburan alam, jadi banyak negara yang ingin menguasai Indonesia dengan cara penjajahan.

Negara-negara pendatang itu ingin berada di Indonesia karena mereka sendiri kesusahan menguasai alamnya. Kebetulan bocil sudah pernah merasakan beratnya hidup diterpa musim dingin dan angin di negara utara, maka dia pun mudeng tanpa embel-embel benci yang salah.

Yang gw seneng, bocil bisa mengambil kesimpulan kalo seharusnya kita menjaga Indonesia dengan baik, merawatnya, dan berusaha memperkuat negara Indonesia supaya tidak ada negara lain yang ingin menyerang Indonesia seperti masa lalu.(Ni ceritanya jadi keinget ama film Avatarnya James Cameron).

Indonesia indah!

Indonesia indah!

Suatu tepi pantai di Aceh

Suatu tepi pantai di Aceh

Nah, yang gw agak pusing nih, ntar kalo bocil jawab soal ujian sekolahnya pake kata-kata gw yang belum tentu diterima sistem pendidikan disini. Piye jal?

Kurus, Item, dan Jerawatan

Okelah, kalo dibilang gitu sama orang-orang (yang ngakunya temen) pasti jengah juga kalik😁. Jadi gini, sekembalinya gw ke Indonesia, hampir sebagian besar kenalan gw surprise (katanya).

“Lo kenapa jadi kurus gitu Za?” Ya iyalah, disana nasi padang mahal gilak, belinya juga harus ke London. (Ini setahu gw aja sih, karena gw jarang jalan-jalan demi nasi padang)

“Mbak, kok jadi jerawatan, bukannya disana udara bersih?” Hehe, buat gw ini takdir. Bulan Januari lalu gw kena cacar air, yang notabene berakibat lebih fatal bekasnya di orang tua dewasa. Dan, here I am, muka dalmatian gw bikin orang-orang kagum saking pedulinya.

Yang terakhir nih juga bikin keki “Zee, sekarang aku lebih putih dari kamu lho😁” Yaah, selamat deh mbak, akhirnya njenengan menang keputihan dari eike😁.

Gara-gara senewen kebanyakan denger pendapat orang kiri kanan, akhirnya gw nanya Mas Suami, yang ternyata dijawab ama beliau kalo emang gw kurus, item, dan jerawatan. Yah, gw cuma lega karena katanya dia tetep cinta kok😘😘, trus ngasih duit buat ke dokter kulit buat perawatan, haha.

Yah, mungkin kali ini emang gw lebay sangat karena provokasi temen-temen tentang fisik gw ya, jadinya gw pasrah aja dateng ke dokter kulit dan manut ngolesin itu krim malam yang ada ingredients “HQ” nya. Paginya harus rajin-rajin pake sunblock biar kulit yang malemnya dikikis gak timbul flek.

Setelah hampir tiga minggu berjuang ngilangin bintik-bintik muka yang menurut gw masih aja keliatan (gw perfeksionis), kayanya gw mo kembali ke selera asal aja.

Gw pingin pake minyak zaitun buat gantiin krim malam yang baunya gak enak ini. Gw juga yakin kalo minyak ini lebih alamiah dalam merawat kulit, rasanya lebih sehat walopun muka kelihatan gak seputih kalo make krim malam dari dokter.

Yang jelas, gw paling parno ama resiko krim-krim kulit (walopun dari dokter sekalipun). Bukan gak percaya sih, tapi masih berusaha mengurangi kadar penggunaan bahan kimia.

Lagian menurut gw, bintik-bintik cacar ini udah mendingan lah. Gak terlalu mencolok mata walopun masih keliatan. Palingan kalo ada mulut usil yang komentar bisa lempar senyum (sinis) dan lirikan maut (membunuh)😁.

Apakah sudah cukup sinis?

Apakah sudah cukup sinis?

Emang susah bener sih jadi perempuan. Pingin keliatan cantik tapi kok standarnya banyak yang lebih ke fisik ya? Apa mungkin karena dari fisiklah seseorang itu pertama kali dinilai? Apa mungkin karena fisiklah yang keliatan lebih dulu daripada kecerdasan atau sifat baik seseorang?

Menurut gw, mbak-mbak yang santun sikapnya, murah senyum, dan suka menolong itu lebih cantik dari mbak-mbak yang putih tinggi langsing namun judes. Etapi kalo udah putih tinggi langsing plus santun itu juga cantik kok (mulai gak jelas arah pembicaraannya).

Ya wes lah, yang mo gw sampein sebenernya cuma, please, kalo ada temen yang nasibnya kaya gw, tolong gak usah bolak-balik menegaskan ke-iteman, ke-kurusan, dan ke-jerawatannya. Cukup kasih duit aja buat biaya perawatan dokter kulit yang yahud, sapa tau bisa ngasih obat yang alami serta mujarab memperbaiki kecantikan kulit.

Atau kalo nggak, kasih semangat dengan meyakinkan bahwa semua baik-baik saja dan iklim Indonesia yang sejuk ini akan memperbaiki kondisi kulit. Amiin.

Last but not least, hargai wanita bukan hanya dari fisiknya. Hormati para wanita dengan cara dia memperlakukan dirinya, dengan cara dia menikmati kehidupannya, dan usahanya untuk berproses menjadi baik. Peringatan ini juga berlaku buat gw, camkan itu Zizaaa.

Well Trained dan Well Educated

Jadi orangtua memang syulittt. Pasti ada tantangan di tiap tahap perkembangan anak. Dan sekarang ini, masih tahapnya gw harus super sabar menata emosi untuk nemenin bocil belajar calistung.

Masih ya, walopun gw gak maksa bocil belajar, tapi kata guru sekolahnya Aro, calistung harus dibiasakan. Sedikit demi sedikit ketertiban dalam belajar diterapkan kedalam jadwal harian anak. Dari mengatur jadwal dia main, dibolehin nonton tivi, sampe ngajak dan nemenin (bukan cuma nyuruh ya😁) belajar.

Hal ini sedikit banyak mengubah hidup gw. Alhamdulillah kami sekarang jadi berkurang banget nonton tivinya, bocah jadi lebih sering cerita tentang kesehariannya, dan jadwal kami tidur jadi lebih teratur.

Hal menyenangkan itu kadang gw lalui dengan suka cita, tapi kadang ya pake linangan air mata. Kalo pas bocil lagi bad mood buat belajar, ngliat huruf aja udah ngambek, sementara Emaknya udah ngantuk pingin meluk bantal, maka disitulah gw merasa nangis. Bocilnya nangis juga, jadi kami kompakan meler.

Biasanya, tragedi air mata itu kami selingi dengan jeda drama sebentar, habis itu ada proses rekonsiliasi antara Ibu dan anak, tentu saja dengan juru damai Mbah Kung dan Mbah Utinya. Setelah itu, ya Alhamdulillah bocil pelan-pelan mau nurutin Emaknya nyanyi atau saling bercerita. Gw juga gak mau maksa bocah ngadep buku terus menerus kalo dia masih ogah membaca.

Gw yang selow ini mungkin bukan contoh ideal bagi orangtua murid dengan tipe ambisius yang ingin bocilnya jadi juara kelas tiap semesternya. Yah, dalam hati pasti pun punya anak yang raportnya berisi angka sembilan sepuluh untuk tiap mapelnya akan sangat membanggakan. Tapi ya, nilai ideal itu harus gw ubah supaya nantinya gak maksa bocah buat mempelajari sesuatu diluar keinginan atau kemampuannya.

Gw pingin menitik beratkan pendidikan bocah pada kehidupannya kelak, insyaAllah lebih pada nilai agama, yang pastinya akan lebih menguatkan karakter dia dalam bertindak. Gw pingin bocah-bocah bisa tumbuh menjadi manusia yang well educated dan alhamdulillah lagi bila mereka menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesamanya.

Beberapa hari lalu, gw ngerasa tersentil dengan sebuah meme bergambar Aamir Khan di film 3 Idiots, yang ini nih :index

Nah, gw rasa itu ada benernya juga. Mendidik dan melatih itu beda, walopun gw gak tau pasti letak perbedaannya, tapi menurut gw gini :

Mendidik itu memberikan ilmu kepada bocah sampe ngerti esensi kegunaannya, membuat bocah dapat survive secara mandiri, dapat berkreasi menggunakan rumus atau ilmu yang diberikan.

Melatih itu memberikan ilmu secara hapalan, tanpa mengerti esensi dari ilmu tersebut. Jadi ketika ada kasus lain, maka bocah tidak dapat menggunakan ilmu tersebut untuk digunakan.

Ibaratnya adalah komputer, suatu alat yang bisa dikatakan pinter banget karena dia sudah dibekali dengan berbagai aplikasi dan troubleshooting. Itu yang gw bilang well trained, karena dasar komputer untuk bertindak hanya berdasarkan default aplikasi yang disematkan pada dirinya. Dia gak akan berkembang, kecuali ada seorang programmer update atau menambahkan aplikasi baru.

Nah, gw gak mau membesarkan bocil model ginian. Pinginnya dia tumbuh sebagai human yang mengedepankan akal dan pikirannya yang didasari dengan nilai agama kami. Bismillah, semoga gw bisa istiqomah nemenin dia belajar, dan semoga anak-anak bisa tumbuh menjadi manusia Indonesia yang sholeh bermanfaat. Amin.

Lebih Tertib Supaya Lebih Oke

Sempat hidup di negeri asing, dimana penduduk yang sering dijumpai, ketertiban dan sopan santunnya sudah jadi kebudayaan, itu sesuatu banget. Saling bertegur sapa bagi yang mengenal atau sekadar say hi bagi yang kebetulan berpapasan di jalan, mendahulukan lansia, wanita hamil dan parents yang membawa anak adalah hal yang sering gw temui ketika itu.

Pun ketika berhadapan dengan pelayanan publiknya. Aturan yang jelas, reward dan punishmentnya transparan, dan prosedur sederhana membuat petugas tidak banyak beban untuk bersikap tegas namun tetap ramah. Konsumennya pun kebanyakan patuh dan taat pada hukum, walaupun menurut gw, kepatuhan itu juga didukung oleh bayang-bayang punishment berupa denda yang tinggi untuk sang pelanggar.

Walaupun gw hanya sebentar banget menikmati hidup serba teratur, patuh pada hukum, dan berusaha tau hak dan kewajiban sebagai imigran, tapi diri ini sudah bisa membedakan kehidupan seperti apa yang lebih bisa dinikmati.

Ketika kembali ke negara sendiri, sudah jelas gw menderita shock culture reverse (bener kata Mbak Yoyen). Dari shock akan perilaku pengguna jalan, ngliat acara di televisi yang bahasanya tak sedap didengar, dan merasakan gemesnya dimodusin petugas pelayanan publik.

Indonesia yang katanya terkenal memegang budaya sopan santun, ternyata masih harus banyak belajar “menempatkan diri” lagi dalam beretika. Gw mengatakan ini sebagai warga negara maupun sebagai petugas pelayan publik.

Sebagai pengguna jalan raya, gw berusaha mematuhi peraturan lalin dan sebisanya menahan diri untuk gak membiasakan perilaku “slonong boy”, menyerobot jalan, dan kebut-kebutan ngejar absen. Memberi kesempatan pada penyeberang jalan dan memprioritaskan orang lain yang berkebutuhan untuk duduk di kursi bus umum, bayar hutang pajak dan melaporkannya. Intinya, berusaha jadi warga negara yang baik lah.20150519092411

Lalu ketika beberapa kali ngurus dokumen pemerintahan, gw akui sudah banyak kemajuan dan perbaikan dalam kejelasan tarif serta prosedurnya, hal itu patut diacungi jempol. Namun ada hal lain yang tak kalah penting, yaitu perilaku petugasnya.

Ada yang masih terlalu kaku untuk bersikap, dan ada yang terlalu selengekan dan cengengesan terhadap konsumen. Seharusnya, petugas berlaku di tengah-tengah hal tersebut. Tegas berwibawa, namun tetap membuat konsumen nyaman berkomunikasi dalam proses pelayanan itu. Wajah yang cerah dengan senyum secukupnya menurut gw udah oke, untuk menghindari kesan sok akrab dan resiko dimodusin konsumen😀.

Tegas berwibawa memang sangat dibutuhkan, apalagi mengingat para peminta layanan publik di negara kita banyak yang ingin “dimaklumi” bila persyaratannya kurang atau peraturannya ketat ( kadang gw masih gini juga 😝, teori memang lebih mudah). Tapi ketegasan itu sebisanya dibarengi dengan cara berkomunikasi yang sopan.

Hal-hal ideal semacam itu tentu butuh pembelajaran terus menerus, training yang intensif kepada petugas, serta pergantian posisi secara barkala untuk menghindari kejenuhan petugas.

Kejenuhan petugas pelayanan ini merupakan hal yang sangat kritis. Beban untuk bersikap manis sering membuat mereka bersikap fake, dan bahkan terpaksa tersenyum. Maka itu, dibutuhkan perhatian lebih kepada para pemberi pelayanan publik ini untuk menunjang kinerja mereka.

Hehe, sebagai tukang kritik yang ceriwis, hal ini khusus gw tujukan untuk gw sendiri yang sedari dulu bergerak di bidang pelayanan publik. Gw menyadari banget kualitas diri ini masih jauh dari hal bernilai ideal. Tapi keinginan untuk mengikuti contoh-contoh yang lebih baik itu gak ada salahnya. Yah, kalo gak dimulai dari diri sendiri, siapa lagi sih?

Pindah Sekolah ke Indonesia

Anak gw yang pertama, berusia tujuh tahun lebih dikit waktu pindah sekolah dari UK. Di sana, dia masuk kelas Primary 2 sebagai major classnya. Penggolongan tersebut berdasarkan umur bocil waktu masuk sekolah, sedangkan kemampuan bocah mengikuti pelajaran, disesuaikan dengan kelas khusus apabila ada yang kurang atau lebih. Ketika pindah ke Indonesia, karena beda kurikulum pendidikan antara UK dan Indonesia, bocil gw dievaluasi lebih dulu untuk memutuskan dia masuk kelas berapa. Walaupun sudah jelas umurnya dan ada dokumen keterangan penyetaraan tentang pendidikan si bocil.

20140928112140

Benang ruwet

Terus terang waktu di UK, gw santai banget ama bocil. Walaupun umurnya sudah menunjukkan waktu dia belajar membaca tulis hitung (menurut pola pendidikan jaman gw kicik dulu, masuk SD harus bisa baca), dia jarang banget gw suruh latihan baca tulis hitung. Selain karena dia lebih suka bermain lego, bercerita ataupun menggambar, calistung ini udah diajarkan di sekolahnya, jadi menurut gw pelajaran dari sekolahnya dirasa cukup.

Sekolahnya di UK pun waktu itu kebanyakan diisi dengan bercerita buku anak-anak (yang kebanyakan gambarnya), mengambil pelajaran berdasarkan tema seperti tema Bajak Laut yang membuat bocil harus bikin peta harta karun pake sistem koordinat (matematika), bikin kostum bajak laut, play role (drama) sampe tau sejarah bajak laut terkenal di Scotlandia. Jam sekolahnya yang pendek pun lebih sering memuat aktivitas fisik seperti olahraga dan bermain. Jadi ya, gw mahfum ketika bocil kemampuan calistungnya masih tersendat- sendat (baca : belum tahan lama konsentrasinya disuruh belajar calistung).

Si bocil yang jarang gw suruh belajar calistung ini agak setress sekembalinya kami ke Indonesia, gw minta dia buat lebih sering belajar. Gw juga setress liat anak tetangga seumuran dia udah lancar baca surat undangan rapat RT yang tergeletak di meja. Dan beberapa kali wawancara dengan pihak sekolah pun yang ditanyakan kemampuan calistung ini, karena kami datang menjelang ujian kenaikan kelas akan dilaksanakan.

Untuk mengikuti kelas yang tertera di dokumen KBRI, bocil harus sudah lancar calistung dulu tanpa melihat umurnya. Kalopun belum lancar, maka bocil terpaksa tinggal kelas dan pendidikannya di UK pun sia-sia. Blaik. Bapaknya yang gak tega kalo bocil tinggal kelaspun kelimpungan, panik dan berpikir jauh ke depan bahwa nantinya bocil akan merasa minder karena usianya paling tua diantara temen sekelasnya.

Setahu gw, ketika mendaftar sekolah bocil di UK dulu, bocah dikelompokan berdasarkan umurnya saja. Sedangkan beberapa pelajaran yang membutuhkan perhatian khusus seperti matematika dan baca tulis dikelompokkan berdasarkan kemampuan bocah. Jadi ketika bocil memang masih kurang lancar membaca, maka dia akan mengikuti kelas membaca dengan bocah-bocah yang kemampuannya sama. Sistemnya menurut gw jadi kaya sistem kuliahan yang pake SKS itu, iya gak sih?

Beruntung gw menemukan sekolah swasta yang cukup toleran ama kemampuan adaptasi bocil dengan sistem pendidikan barunya ini. Sekolah barunya ini lebih sering mengajak bocil mengeksplorasi alam dan mempraktekkan ilmu yang diajarkannya. Dari pelajaran menanam sayur, memancing ikan, sampai praktek tentang cahaya menggunakan senter dan lilin.

Sekali lagi gw ngerasa lebih cocok dengan sistem pendidikan swasta di Indonesia yang kurikulumnya lebih ramah ama bocil. Tanpa paksaan harus banyak membaca tulis hitung, mereka hanya lebih sering diperkenalkan dengan gambar dan kata-kata sederhana untuk menceritakan kegiatan sehari-harinya. Jadi bocil dilatih untuk membuat diary yang akan lebih menarik mereka untuk mengingat daripada menjawab soal-soal yang ada di buku pelajaran.

Menurut salah satu tenaga pendidik disana, untuk kelas pemula di SD, mereka menekankan pembiasaan ketertiban dan pengembangan karakter anak dulu, sedangkan kemampuan calistung akan mulai diperbanyak di kelas 3 SD. Kelas pemula ini, memang belum ditekankan untuk lancar calistung karena mereka masih dalam fase belajar dari permainan, belajar dari contoh, belajar dari pembiasaan. Hal tersebut menurut gw bagus banget, sesuai dengan keinginan gw ngasih pendidikan yang lebih menyenangkan buat bocil.

Sudah dua minggu ini si bocil melalui proses sit in untuk beradaptasi terhadap sekolah barunya, dan Alhamdulillah dia masih semangat tiap gw bangunin pagi untuk berangkat sekolah. Adeknya yang dulu sempat ikut kelas nursery di UK pun iri setengah mati dan bolak-balik nanya kapan dia juga daftar sekolah lagi.

Pingin sekolah lagi dia..

Pingin sekolah lagi dia..

Yah, walaupun resikonya gw belum bisa menikmati  fasilitas pendidikan dasar gratis dari pemerintah Indonesia, tapi gw tetep bersyukur anak gw bisa menikmati pendidikannya dengan lebih nyaman, dan semoga pendidikan dengan sistem semenyenangkan ini bisa berkembang dan diadaptasi oleh pendidikan negeri di Indonesia, karena memang menurut gw, sekolah harus bisa mendidik dengan menyenangkan. Inspiratif dan membangun bangsa. Ya nggak?

Broughty Ferry

Suatu siang yang dingin di bulan Februari, kami sekeluarga memaksakan diri untuk keluar rumah. Demi mengunjungi sebuah daerah pantai di kota Dundee bernama Broughty Ferry.  Daerah ini terletak agak jauh dari City Center kota Dundee. Untuk menuju kesana, kami sekeluarga harus menumpang bus nomor X5 dari City Center dengan biaya £7 untuk tiket Family Day Saver.

Sampai di halte bus Forthill Rd, kami turun dari bus dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki menyusuri bangunan-bangunan putih khas kota pantai. Sebenarnya Broughty Ferry ini bukan pantai pinggir laut seperti yang gw lihat selama di Indonesia, hanya pinggir Tay River saja, tapi tetap dilengkapi pasir halus nan bersih dan bebatuan kali yang beraneka warna. Aroma udaranya pun aroma laut yang asin namun menyegarkan.

Melihat kilauan air dari kejauhan bikin para bocil berlari gak sabar pingin keceh. Walaupun dinginnya angin cukup menggigit, gak bikin mereka keder. Sesampainya di pinggir pantai berbatu, mereka penasaran menyentuh air sungai, dan cuma bisa nyengir kedinginan. Menyerah dengan air sedingin es, bocil mulai mengalihkan pandangan kepada objek lainnya. Batu kali yang ada di pinggir sungai pun dikorek-korek, dipilih, dan akhirnya dilempar ke arah sungai. Berdua seneng banget adu lempar batu paling jauh.

Sementara bocil sibuk dengan permainan yang mereka ciptakan sendiri, gw hanya mengawasi dan iseng merhatiin bentuk batu kali yang unik. Gw inget, beberapa temen di Indonesia yang masih kena demam batu akik. Dan secara acak gw ambil beberapa batu sebagai kenang-kenangan akan tempat ini. Duo bocil yang ngliat ibunya sibuk milih batu pun ikutan penasaran dan iseng mengambil bebatuan yang mereka anggap menarik. Kantong jaket kami sampe berat menampung sekitar sepuluh batu kali yang akhirnya diseleksi lagi menjadi sekitar lima biji saja untuk kami bawa.

Bagian pantai selanjutnya berbentuk dermaga kecil tempat club yacht mengaitkan kapal kecil mereka di tepi sungai. Tak jauh dari situ, sekumpulan seagulf dan angsa putih dengan cantiknya berkumpul menghiasi pantai. Sayang sekali kami nggak bawa roti untuk memberi makan mereka😖.

DSCF9227

Bagai Swan Lake

DSCF9230

Angsanya jinak lho

DSCF9237

Odet

Seneng banget pas ngliat ada mbak-mbak dikerubuti seagulf dan angsa-angsa jinak ini karena mengacung-acungkan roti. Jumlah seagulfnya bisa jadi puluhan, mereka antusias menyambar roti itu dari tangan si mbak. Pemandangan itu bikin bocil bolak-balik ngajak ke Broughtyferry lagi kalo liat persediaan roti di dapur.

Broughty Ferry

Sore bersama Ayah

Melanjutkan perjalanan sore itu, kami menuju taman bermain yang terletak di depan Broughtyferry Castle. Playground yang cukup lengkap dengan fasilitas bermain serta tetap ramai dikunjungi anak-anak walaupun udara masih dingin. Puas bermain dengan bocah, kami bergerak menuju pantai berpasir. Berbagai macam bentuk kerang dan keong kami kumpulkan untuk disusun membentuk gambar iseng. Setelah itu, kami pun lomba lari di atas pasir yang tentu terasa berat buat anak-anak. Haha, mereka sampe ngos-ngosan berusaha mengejar Ayahnya yang berlari lebih cepat.

Matahari bergerak lambat ke arah barat, tenggelam di telan cakrawala Tay River. Di bawah sinar lembayung senja, kami menunggu bus X5 membawa kami kembali menuju City Center. Ahh, semoga kenangan manis ini akan selalu menjadi penghangat cerita kehidupan kami kelak. Amin.

Produk Lokalnya Mana?

Seperti sudah menjadi kebiasaan ya, setiap ada teman atau kenalan yang pulang bepergian, yang ditanyain oleh-olehnya. Jadi, gw bawa oleh-oleh apa aja waktu balik ke Indonesia? Jangan kecewa, gw gak bawa (banyak).

Selain karena bagasi kami sekeluarga udah full ama baju, buku dan mainan bocah, gw juga kesulitan cari oleh-oleh yang bisa gw bawa. Ah, alesan lu aja kali Zee.. Ya emang, kok tau sih😁😁.

Beberapa hari terakhir di UK, gw pake buat beberes flat, demi uang deposit kontrak flat kami agar bisa kembali utuh, tanpa potongan biaya kerusakan pemakaian flat dan furniture kontrakan. Selain itu, kami juga muter say goodbye ama orang-orang yang kami kenal disini. Jadinya, beli oleh-oleh memang bukan prioritas kami. Jahat ya?

Selain alasan waktu, tentu saja biaya dan bentuk oleh-oleh yang diperkenankan pihak imigrasi, bikin mas suami yang anti ribet ini tambah mikir. Biaya yang kami spare untuk oleh-oleh tentunya gak banyak, dan sayangnya budget itu gak cukup untuk beli barang-barang khas UK yang lucu-lucu.

Waktu gw sempatin keliling mall, ternyata barang  yang gw incer buat oleh-oleh (karena murahnya), hampir semuanya, buatan luar UK (baca: made in Chi*na). Oalah, kalo gini sih tinggal nyari di Mangga Dua aja bisa nih😁.

Menurut gw, memang semua itu tergantung niat ya. Kalo emang niat buat beli oleh-oleh, pasti bakalan nemu deh yang pas. Wong toko souvenir digelar dari London sampe Edinburgh. Tapi dasar gw nya yang udah lebay duluan gak mau bawain barang yang memang bukan produk lokal, ya uwis deh. Good bye UK tanpa bawa souvenir, kecuali yang diberi temen-temen sebagai tanda perpisahan dari mereka.

Produk lokal UK sendiri setahu gw lumayan banyak. Dari coklat (tentu tanpa sertifikasi halal), produk kosmetik, toiletries, kilt dan tas kulit kambing khas Scotland (yang mihilnya mintak ampuun, tapi baguuus). Selain itu apa ya? Mungkin produk-produk unik yang dikeluarkan oleh beberapa tempat wisata seperti Museum dan Galeri sih.

Produk lokal tersebut gw akui kualitasnya bagus, dan jelas harganya gak ramah di kantong. Jadi misalkan gw beli pun, kayanya bakal dikekepin sendiri sebagai kenang-kenangan, hihi.

Dari pengalaman hunting printilan gini, gw jadi berasa antara sedih, salut, dan seneng. Semuanya bercampur menjadi satu😜. Sedih karena barang lokal yang gw incer harganya mihil, salut ama negara China yang bener-bener menguasai dunia lewat produk massal mereka, dan seneng karena kepikiran curang buat beli oleh-oleh di Mangga Dua.

Eh, selain perasaan gak jelas tersebut diatas, gw juga berasa heran, kok bisa-bisanya negara segede UK kemasukan barang impor “made in Chi*na” gini, dan ternyata laris manis pula. Ternyata alesan ekonomi lah penyebabnya. Barang-barang impor ini dibanderol dengan harga lebih murah, walaupun kualitasnya kadang kurang bagus.

Denger-denger, selain memainkan kualitas barang, China menghargai tenaga kerja yang digunakannya rendah, untuk menekan biaya produksi dan menghasilkan harga jual yang “bersaing”.

Isu kemurahan barang ini juga menimpa salah satu toko yang terkenal murah di UK, namanya Primark. Toko ini juga langganan gw beli baju, harganya gak terlalu jauh dari harga mall di Jakarta. Dari label keterangan sih memang gw lihat produk Primark ini kebanyakan impor, dan biasanya dari negara berkembang.

Btw, kalo barang-barang made in Indonesia, juga pernah gw lihat di mall lho. Label itu tercantum cantik di sepatu-sepatu branded populer. Ada juga yang nempel di baju-baju keluaran butik mahal, bangga deh.

Etapi, gw mikirnya, walaupun harga yang dibanderol buat sepatu dan baju itu mahal, apakah harga beli mereka dari Indonesia juga pantas? Apa tenaga kerja dan bahan yang pasti udah melalui proses QC yang ketat itu sudah dihargai semahal harga jual mereka ke konsumen? Wallahualam.

Yang jelas, gw minta maaf gak bisa ngasih oleh-oleh buat temen-temen. Dan cencunya, gw harus siap menerima cibiran dan tudingan pelit deh.😁😁.

Oiya, gw ada 5 kartu pos bergambar pemandangan kota Dundee, ama 20 koin penny. Yang minat, bisa komen aja, ntar gw jual, hihi..Gak deng, yang mau silahkan komen pingin yang mana, insyaAllah gw kirim kalo persediaan masih ada, dan tentu kalo gw udah gajian✌.

 

Post card Dundee

Post card Dundee

20150430094320