Kok ke St. Andrews sih?

Tahun 2000an, adalah masa yang cukup sulit buat gw lalui, kenapa? Karena waktu itu Indonesia masih dalam rangka pemulihan badai krisis ekonomi jadi imbasnya uang saku sekolah gw mefet banget, karena waktu itu pelajaran sekolah kok ya lagi susyah-susyahnya, ngitung integral, gaya gravitasi, dan persamaan linear gerakan roket yang, aduuh..berat men. Tapi dua itu belum apa-apanya dibanding kabar dari sebuah koran infotainment yang menyesakkan, Pangeran William dari Inggris jadian ama cewek temen sekolahnya, uhuuuk, jleb lah..

Waktu itu gw langsung penasaran seperti apa temen ceweknya ini, sekolah dimana, anak siapa..😝😝. Setelah cari info sana sini, akhirnya tau kalo Mas Willie dan Mbak Katie ini ketemu dan saling naksir di University St. Andrews.

Setelah melewati masa pedih denger cerita jadian mereka, ternyata gw malah penasaran ama universitas dan kota kecil nan kuno ini. Kenapa Mas Willie sekolah disitu, kaya apa sekolahnya dan pastinya sejarah kota St. Andrews itu sendiri.

Gak seperti bayangan gw yang tadinya underestimate ama Univ St. Andrews dan kota St. Andrews, ternyata kota kecil ini mempunyai banyak cerita, banyak sejarah kuno. Nama kota ini diambil dari nama seorang tokoh bernama St. Andrews (salah satu murid Isa Almasih) yang  sangat pandai bersosialisasi dan mencari pengikut. Andilnya dalam penyebaran agama Kristen membuatnya menjadi tokoh pelindung di daerah Scotlandia, Yunani, dan Rusia. Kisah kematiannya yang berakhir di tiang salib berbentuk diagonal pun menginspirasi bentuk bendera Scotlandia.

Beberapa reruntuhan gereja dan benteng kuno membuktikan banyaknya peperangan dan kejadian yang dahsyat pernah dilalui kota ini. Bangunan-bangunan kuno tersebut, walaupun sebagian hanya berupa bagian-bagian tembok tak sempurna, namun tetap kelihatan terjaga. Perkiraan gw, kalo gak sengaja dirusak atau kena kejadian alam yang parah, mungkin bangunan itu akan bertengger dengan gagah di ujung bukit kota.DSCF0237

Gate

Gate

Reruntuhan Katedral

Reruntuhan Katedral

Reruntuhan katedral

Reruntuhan katedral

Jalan sudut kota

Jalan sudut kota

 

Pun Universitas St. Andrews sendiri prestasinya ternyata gak baen-baen. Universitas kuno ketiga di negara berbahasa Inggris setelah Cambridge dan Oxford, juga merupakan universitas tertua di Scotlandia ini masuk ranking antara tiga terbaik se UK sampe 50 terbaik dunia (tergantung jurusannya). Beberapa tokoh penting di Inggris Raya dan Scotlandia (selain sang Pangeran dan Putri) pernah sekolah disini, ndak sah disebutin tapi yaa (ndak ditanyain pas Ebtanas kok).

Pengen jadi adek kelasnya Mas Pangeran

Pengen jadi adek kelasnya Mas Pangeran

Yang menarik, di salah satu dinding Universitas tertera salah satu informasi yang wow banget, Gregorys Meridian Line. Garis yang diciptakan oleh James Gregory,  membelah bola dunia menjadi barat dan timur di tahun 1673. Garis meridian ini diciptakan jauh sebelum Greenwich Prime Meridian disyahkan sebagai acuan pembagian zona waktu dunia di tahun 1884. Menurut beberapa ahli matematika, Gregorys Meridian Line dinilai lebih akurat dalam pembagian zona waktu (selisih 12 menit lebih awal), namun karena pada akhir abad 19 banyak negara yang menggunakan Greenwich Mean Time sebagai acuan waktu, maka akhirnya GMT diputuskan menjadi standart pembagian waktu dunia.

Abaikan sang Mbak2 dan duo bocilnya😿

Abaikan sang Mbak2 dan duo bocilnya😿

Gregorys Medirian Line,  sebiji garis di trotoar yang membelah dunia

Gregorys Medirian Line, sebiji garis di trotoar yang membelah dunia

Jasa James Gregory dalam dunia ilmu pun banyak, menciptakan teleskop Gregorian, serta salah satu matematikawan yang juga menciptakan kalkulus bersama Newton dan Leibniz. Penemuannya yang gak kalah penting yaitu meletakkan dasar Prinsip Diffraction Grating (nyang ini cari sendiri penjelasannya yeee, rumit bin ajib deehhh..)

 Selain itu, disini ternyata adalah kampung halamannya olahraga golf. Lapangan golf kuno itu bernama Old Course, masih terawat rapih hingga kini, dan masih menjadi kesayangan para olahragawan golf terkemuka dunia.

Yaah, Alhamdulillah banget ternyata pernah mampir di kota penuh kenangan gini. Setelah satu setengah dekade cuma bisa bayangin Mas Willie dan Mbak Katie jalan gandengan tangan menuju kantin, eh sekarang gw gak mau kalah mesra dengan menggelendot manja ke pundak Mas Suami 😘.  Tsahhh..

Oiya, gw malah dari tadi gak ngejelasin letak kota St. Andrews ya, jaraknya kira-kira 16 km arah tenggara Dundee, dan kira-kira 50 km arah timur laut kota Edinburgh. Kalo mo kesini, bisa naik bis atau kereta dari Edinburgh (ke arah Dundee) lanjut naik bis yang tiketnya gratis sepaket ama kereta, atau langsung naik bis jurusan St. Andrews.

Oiya lagi, karena letaknya di tepi timur Pantai Fife, Scotlandia, kota kuno ini berangin semribit, kuenceng angine. Bayangin aja para lelaki Scotland pake kilt tanpa daleman, pasti harus tangguh banget supaya gak masuk angin.

Tepi pantai

Tepi pantai

DSCF0193DSCF0224

#Udahlah jangan nurut ikut bayanginn.😝

Mampir di St. Andrews

Hallloooo, Assalamualaikuuum.
Ok, ini postingan super duper telad, gak update dan cuma mo bagi (baca : pamer) poto-poto doang semasa gw di St. Andrews, Scotlandia sekitar bulan April 2015. Please jangan disambit yes..
Jadi, pada waktu itu, gw udah capek berat dengan persiapan kepulangan kami sekeluarga ke Indonesia. Walaupun cuma packing baju, sedikit oleh-oleh dan barang-barang printilan yang kami bawa, tapi lumayan bikin tepar lho. Teparnya karena sibuk menyeleksi barang mana yang mo dibawa dan barang mana yang harus direlain tinggal.
Hal ini penting karena kami akan meninggalkan United Kingdom via perjalanan udara, yang mana peraturannya cukup ketat. Kiranya gak perlu dibahas betapa strictnya Mas Suami membatasi barang-barang yang akan kami bawa ya, apa-apa maunya ditinggal, dari koleksi Legonya bocah-bocah, sampe beberapa baju musim dingin yang katanya gak bakalan kepake di Indonesia.
Thanks God, gw cuma punya baju musim dingin dikit, jadi gak nyesel-nyesel amat meninggalkan baju-baju berat itu di charity box. Tapi khusus Lego, memang gw agak berat meninggalkan mereka, itu mainan kesukaan bocah-bocah, dan pastinya harganya lumajan buat Mak Irit macam gw, heheh. Syukurlah Mas Suami masih meloloskan permintaan gw membawa plastik cilik-cilik itu naik pesawat.
Btw, kalo dipikir-pikir, memang syukur Alhamdulillah Mas Suami kekeuh meninggalkan beberapa barang yang terindikasi berbahaya bagi proses penerbangan kami. Selain demi urusan kelancaran dan keselamatan penerbangan, tentunya kami gak mau dicap sebagai pendatang yang gak tau aturan negara orang lah, jaga image Indonesia gitu lho.
Segala macam saos, mustard, dan bahan makanan berharga kami wariskan ke beberapa teman Indonesia yang mau menerima. Sabun, diapers, baju-baju berat, sepatu, seprei, selimut, dan toiletries akhirnya pun ditega-tegain buang, hiks. Piye meneh, daripada diudhal-udhal (dibongkar) paksa ama petugas Avsec trus bete karena gak diberesin padahal masih bawa anak cilik dua biji, ehhh..
Hihi, openingnya kepanjangan. Dan ditengah teparisasi packing itu, Mas Suami tiba-tiba menelurkan ide segar, jalan-jalan sebentar yuuk, ke St. Andrews, tempat kuliahnya Abang Willie..Lhaaa, ya jelas mengangguk-angguk beberapa kali lah. Let’s go Baby..
Berangkat dari Dundee City Center naik bis ke St. Andrew Cuma beberapa menit, gak sampe dua jam, perkiraan gw kok kaya Semarang- Salatiga via tol gitu ya, haha. Melewati Tay River yang membelah Dundee dan St. Andrews melalui jembatan besar yang kadang terlarang untuk kendaraan besar karena anginnya yang kenceng, menapak jalan-jalan sepi khas pedesaan Inggris, membuat hati jatuh cinta dan terasa adem (ya iyalah, wong suhu masih sekitaran 10 dercel Mbakee..).
Seperti biasa, sesampainya di St. Andrews kami muter-muter aja tuh di kota kecil tempat Mas Willie dan Mbak Katie kuliah. Kotanya beneran kecil, penduduk asli sepertinya gak banyak, mungkin lebih banyak turisnya. Bangunan-bangunan tua nan terawat ada di sepanjang jalan, kampus, katedral, gereja kuno, benteng kuno, dan rumah-rumah penduduk yang sama menariknya buat dipake background poto selfie.
Yang bikin gw tambah seneng nih, kali ini Mas Suami yang pegang peranan sebagai tukang poto, karena gw lagi alesan pingin menikmati jalan-jalan kali ini, mumpung ke sekolahnya Mas Willie gitu looh. Ostomastis hal ini bikin poto-poto gw kali ini mendominasi, dan senengnya lagi, ada beberapa yang candid ala-ala seleb, haha, nggilani..
Nah, yang bersedia ngintip poto-poto kami, monggoooo..

#warning: berikut akan ditampilkan cuma sederetan poto narsis, demi eksis, dan bisa jadi bikin Anda nangis, haha..

InsyaAllah untuk informasi tentang St. Andrews sendiri akan gw tulis di artikel terpisah.

Ciaoooo

DSCF0188

Jadi, kau memilih dia, Mas?

Beradu lidah

Beradu lidah

Satu..

Satu..

Dua..

Dua..

Tiga..

Tiga..

Sama-sama gak jelas kan?

Sama-sama gak jelas kan?

Mendung-mendung syahdu

Mendung-mendung syahdu

Tetaplah Jadi Anakku

Assalamualaikuuummm, lama bangget gw gak nulis dan blogwalking. Banyak ketinggalan berita dari temen-temen sekalian, maaf yaa.

Dunia perkantoran yang sak karepe dhewe memang membunuhku secara perlahan, mungkin karena gw masih tahap loading dengan pola kerja setelah keasyikan jadi mbok-mbok rumahan nyambi sesekali eksis di dunia blogger (alaahh blogger gadungan saya mah🙈)

Nah, malam ini gw niatin bener mo nulis karena alhamdulillah seminggu kemarin diberi kesempatan cuti dari kantor selama seminggu. Badan dan pikiran sih masih merindukan family time yang tak ternilai harganya, tapi tetep ya, besok Senin harus syemangat ngantor dan kerja lagi.

Seminggu cuti ini gw habisin dengan banyak hal rutin ala ibu-ibu, contohnya ya nyuci-kucek-jemur😹, contoh lainnya ya masak plus bersih-bersih rumah. Rumah yang gw bicarakan kali ini rumah gw sendiri, bukan rumah orang tua tempat selama ini gw dan anak-anak numpang.

Just info, selama ini gw masih numpang di rumah Bapak Ibu. Keluar rumah cuma beberapa tahun waktu gw kuliah, trus dapet penempatan dinas ya balik ke rumah ortu. Diberi kesempatan mandiri hanya beberapa bulan ketika nyusul mas Bojo sekolah, dan setelah kembali ke Indonesia, ya pisah ranjang lagi ke rumah orang tua masing-masing😿.

Kembali ke rumah orangtua, memaksa posisi gw kembali ke dunia “anak-anak”. Karena di tempat inilah, bagaimanapun tuanya usia, gw tetap dianggap “anak” oleh orangtua.

Dianggap “anak” disini bukan berarti gw dianggap anak kecil sih, tapi justru seringnya kaya “diingetin” perannya sebagai manusia dewasa, terutama peran gw jadi emak-emak kekinian.

Contohnya simpelnya nih, gw bisa ditegur kalo sholat subuhnya kesiangan walopun alesannya gw capek, gw bakal ditelponin kalo pas dapet jatah lembur dan nggak ngabarin rumah, dan tentunya, gw bakal diingetin buat kondangan ke tetangga anu atau ikut arisan inu.

Belum lagi kalo berbicara tentang pola pengasuhan anak, kehidupan berumahtangga yang LDR-an, sampe hubungan dengan mertua beda budaya, hihi..ribed euy. Padahal itu belum apa-apanya kalo pas kebetulan kami beda pandangan menentukan kapan sholat Ied, atau beda pilihan pas nyoblos presiden anu, haha..🙊

Kadang hal itu melelahkan gw. Dan beberapa kali akhirnya menjadi sumber kecanggungan dalam hubungan anak-orangtua. Gw tau juga sih, hal tersebut merupakan bentuk perhatian orang tua terhadap gw. Dan pastinya, mereka melakukan itu karena kasih sayang yang tak terbatas.

Kalo pas lagi adem dan mikir sehat, gw bisa nangis sendiri inget kelakuan-kelakuan gw yang memang masih butuh pengawasan. Tapi sayangnya, kalo pas badan ini capek atau kondisi mental yang amburadul, lagi-lagi gw bisa nangis sendiri karena butuh bersenang-senang (hayaaah!).

Tapi ya, sepanjang pengalaman gw menjadi “anak-anak” yang sudah terlalu tua (Bocah Tua Nakal- Cu Pe Tong; generasi 90-an pasti tau inilah) posisi anak gimanapun adalah posisi penuh cobaan dan kalahan😿.

Maksud gw, sebisa apapun, mengalahlah pada orangtua. Misalkan kita (merasa) benar pun, mengalahlah dengan berdiam diri terlebih dahulu, beri wejangan, eh..pendapat atau dasar ilmu tentang sesuatu yang kita anggap benar itu setelah kondisi lebih aman terkendali dan tentunya dengan suara dan perilaku selembut mungkin.

Kalo ada yang ngambek, wes lah, legowo buat koya atau nyolu (bermanis-manis mulut dan perilaku; boso Semarang) terlebih dahulu. Gak ada salahnya, sapa tau dapet uang jajan dari Bapak atau Ibu, eh..🙊

Hal itu tentu bukan tanpa dasar, karena orangtua lah yang dari kecil merawat kita, orangtua lah yang mendidik kita, dan kepada orangtua lah kita mempunyai hutang. Ridho orangtua lah yang kita butuhkan untuk sukses dunia akhirat.

IMG-20141217-WA0001

Bismillah, semoga Allah SWT selalu memberikan kemudahan dan kelancaran urusan untuk Bapak Ibu. Amin.

Yang jelas, jadi orangtua ataupun anak, gak ada posisi yang lebih mudah. Orangtua pun pasti merasa kesulitan bila anaknya bandel, ngeyelan, dan kekanakan. Jadi anakpun, kalo bisa belajar untuk menjadi lebih baik lagi biar bisa membahagiakan Bapak Ibuknya.

Sama-sama terus belajar sih, karena cita-cita gw, pingin jadi orangtua yang fun dan jujur aja ama anak. Gak selamanya harus menunjukkan kesempurnaan, bisa sama-sama berlaku konyol, bersahabat dan yang penting berani minta maaf bila memang merasa menyinggung hati anak-anak.

#note buat gw kelak.

#semoga ingat, dan tolong ingatkan Ibumu yang pelupa ini, Nak

Matikan Kalkulatormu

Beberapa bulan kembali ngantor, tapi nglirik rekening gaji masih minus itu rasanya mulesi😁. Gimana enggak, kebutuhan kembali ke “markas” dan rutin bulanan sudah menanti, tapi birokrasi tetaplah harus ditaati.

Perjalanan surat penempatan kerja gw sebagai karyawan harus melewati jalur panjang dan (cukup) lama. Yah, itulah birokrasi. Jalan tengahnya ya harus “fasten your seatbelt” sampai bendahara kantor bisa mengabarkan bahwa sekarang kulit manggis ada ekstraknya.

Penghiburan dari beberapa teman yang menyarankan gw untuk bersabar, dan harapan bahwa sesuatu akan indah pada waktunya merupakan gizi cukup ampuh buat otak gw mengatur mindset.

Yep, mindset sebagai seseorang tanpa penghasilan, akan berdampak besar dalam proses membelanjakan uang yang sumbernya sekarang hanya dari transferan. Walaupun sempat beberapa kali terjadi miscalculation karena kebutuhan Lebaran yang tidak toleran. Bokek book.

Penghiburan lain, dari seorang teman, bahwa kalo sekarang belom gajian, berarti suatu saat akan rapelan. Kalkulatorpun berjalan, menghitung pundi-pundi uang.

Gw bilang, jangan gitu Sayang. Matikan kalkulator itu, kalau perlu, buang. Yah, sebagai seorang yang pernah merasa dikecewakan, gw takut dalam hal menghitung uang.

Takut bila ternyata gak sesuai harapan, takut bila ternyata banyak potongan, dan takut kenyataan, halah..

(Ahh, udah cukup berimanya, susah ternyata..)

Yeah, itulah yang terjadi selama beberapa bulan ini. Bokek berat karena belum gajian, tapi kadang mindset masih pegawe kantoran. Wich is kadang makan siang masih pingin yang enak dan mahal, liat olshop fashion langsung jelalatan.

Mindset gw yang salah, karena dalam lubuk hati terdalam masih tersimpan harapan rapelan dengan angka sekian-sekian, seharusnya bisa ditepiskan. Mindset itu kadang bikin gw berasa matre karena kerja cuma ngarep bayaran. Walaupun itu 99,99% benar.

Padahal ya, gw sering ngomongin junior magang di kantor gw, bahwa jangan sampe mereka udah ngitung rapelan. Selain ora elok, hal itu bisa bikin mereka membayangkan hal-hal yang cenderung konsumtif, bukan produktif. Ya iyalah, belum nerima duitnya, tapi udah rencana mo beli apa-apa.

Baiklah, berencana itu boleh. Cermat berhitung itu juga harus. Namun, ada hal lain yang juga harus diingat. Resiko dan biaya. Dalam ilmu hitung ramal meramal, dua faktor ini mempunyai andil. Ada yang besar, dan ada yang kecil, sesuka kita ajalah. Yang jelas, dua hal ini tak patut disingkirkan.

Gw kasih contoh aja, grade penghasilan gw ternyata diturunkan setelah kembali dari cuti, itu resiko. SK penempatan gw ternyata tak berlaku surut, dan akibatnya, dua bulan gw ngantor -sebelum SK tersebut terbit-pun gak dibayar, dan gw terima hal tersebut sebagai resiko.

Sebenernya ada beberapa jalur untuk meminimkan resiko, dengan mengikuti peraturan yang sudah dibuat. Karena pada dasarnya, peraturan merupakan guidance kita melaksanakan sesuatu.

Seperti dalam kasus gw, mengajukan surat pengaktifan pegawai sebelum cuti berakhir, sehingga proses birokrasi pengaktifan pegawai itu sudah selesai ketika gw balik ngantor. Karena beberapa hal, memang gw terlambat mengajukan surat tersebut ke kantor, ya wes itu salah gw dong.

Yang kedua, karena peraturan penurunan grade penghasilan itu memang sudah tertulis dalam kitab kepegawaian, maka sudah sepatutnya gw legowo menerima keputusan penyunatan tunjangan penghasilan.

Nah, sudah ada yang mau bantu bikin posko koin bantuan gak?

#ngarep😁😁20150430094320

Buat Apa MCU?

Wait, ini bukan iklan, ini cuma sharing pengalaman.

-disclaimer dari seorang lebayer Indonesia-

Sudah pernah Medical Check Up (MCU)?Apa to MCU itu? MCU adalah program pemeriksaan kesehatan yang bertujuan untuk mengetahui status kesehatan seseorang, selain untuk mendiagnosis gejala dini atau mengobati penyakit. Prosedur MCU dilakukan dengan cara wawancara riwayat kesehatan dan pemeriksaan pendukung seperti tes darah, urine, rontgent, dan lain-lain sesuai kebutuhan.

Biasanya dokter akan mewawancarai customer mengenai riwayat kesehatan dengan menanyakan kondisi kesehatan secara umum, operasi yang pernah dilakukan, dan jenis obat-obatan yang pernah dikonsumsi. Selain itu gaya hidup yang dijalani, seperti pola makan, istirahat, olahraga, serta kemungkinan konsumsi rokok dan alkohol. Tak lupa penyakit yang biasanya ada di keluarga untuk mendeteksi resiko kecenderungan penyakit akibat pola genetis.

Setelah wawancara riwayat kesehatan, dokter akan melakukan tes pendukung seperti pengukuran tekanan darah, detak jantung, tes darah, tinggi badan, berat badan, plus tes darah, urine, dan rontgent bila diperlukan.

Jenis-jenis MCU pun bervariasi tergantung keperluan dan permintaan customer. Beberapa jenis MCU yang udah pernah gw jalani adalah MCU Penerimaan Pegawai (kesehatan umum, narkoba, paru-paru), MCU Pranikah (HIV/AIDS, Rhesus, Hepatitis, PMS), MCU Rutin dari kantor (gula darah, jantung, kolesterol, paru-paru), MCU Permohonan Visa (paru-paru, pemeriksaan kesehatan umum), MCU untuk Wanita Dewasa (pemeriksaan umum, kanker serviks), dan yang terbaru adalah MCU Rubella (Campak Jerman).

Dari beberapa MCU tersebut, ada yang gw lakukan atas inisiatif pribadi, dan ada yang gw lakukan karena tuntutan suatu instansi. Untuk MCU yang bersifat pribadi, awalnya gw lakukan karena pengaruh Mas Suami yang super duper kelewatan sikap hati-hatinya. Kekhawatiran beliau memang kadang berlebihan, tapi kalo dipikir-pikir memang masuk akal. Bagi gw pun, selama ada rejeki untuk melakukan MCU tersebut, gw akan jalani supaya ketenangan hati mengenai kondisi kesehatan tubuh kami lebih terpantau.

Dulu sekali, gw pernah tersinggung dengan permintaan beliau untuk MCU Pranikah yang mengharuskan kami tes darah untuk memeriksa apakah kami kena HIV/AIDS, Rhesus, Hepatitis, dan PMS( Penyakit Menular Seksual). Rasa marah karena merasa gak dipercaya akan pola hidup sehat dan perilaku, mendera pikiran gw karena stigma bahwa yang seharusnya tes macam itu adalah orang yang beresiko tinggi terpapar HIV/AIDS, Hepatitis, dan PMS. Selain itu biaya MCU yang cukup tinggi juga bikin gw mengkeret sambil bayangin duit sebanyak itu bisa gw pake buat bikin kebaya cantik atau nambahin budget makanan tamu.

Tapi toh MCU itu tetep  dilakukan karena walopun waktu itu gw merasa yakin akan keadaan tubuh, tapi gw gak mau beresiko buta terhadap kondisi kesehatan. Apalagi setelah pernikahan, ada tahap yang lebih kompleks karena menyangkut kondisi kesehatan orang-orang disekeliling gw macam suami dan anak-anak.

Dan waktu itupun, seinget gw, kami pernah berdiskusi bila nanti hasil MCU Pranikah ini tidak seperti yang kami harapkan, maka kami harus saling jujur dan fair untuk memikirkan ulang keputusan kelanjutan hubungan kami. Alhamdulillah hasil MCU Pranikah itu sesuai harapan kami yang menyatakan kami sehat dan golongan Rhesus pun sama.

Kalo dipikir-pikir lagi, MCU ini sebenernya mengandung hal lebih jauh dari sekedar mengetahui kondisi kesehatan. Buat gw, MCU adalah deteksi dini dan observasi perilaku gw sehari-hari. Pola makan gw yang masih sembarangan tercantum dalam angka kolesterol yang mendekati ambang batas bahaya, kebiasaan kurang olahraga dan kurang minum air putih juga mempengaruhi keadaan ginjal gw.

Untuk penyakit yang menyebar melalui virus dan bakteri, Mas Suami punya pengalaman (dan kekhawatiran) lebih banyak. Lingkup pergaulannya yang lebih luas dan lebih heterogen vs kehati-hatian beliau menjaga kesehatan dirinya, malah kadang membuat beliau pingin melakukan MCU macem-macem untuk memastikan semuanya baik-baik saja.

Beliau tahu tentang ilmu menjaga kesehatan diri dan teori penyebaran penyakit, namun pikiran tentang suatu sebab abnormal ataupun takdir yang tidak terduga akan selalu ada. Contohnya ketika wabah Ebola menyerang sebagian benua Afrika tahun lalu.

Ketika itu, justru banyak pelajar Afrika yang masih menimba ilmu di United Kingdom, dan mereka masih rutin mudik tanpa terpengaruh isu Ebola tersebut. Mas Suami yang kadar awarenessnya tinggi, memilih untuk menghindar bersalaman dengan kebanyakan teman dengan alasan bahwa dia sedang tidak fit kondisi tubuhnya. Gw yang merasa awareness ini berlebihan akhirnya sempat menegur Mas Suami, takut beliau mendzolimi diri sendiri dengan pikiran berlebihannya itu, serta takut akan ada teman yang tersinggung dengan sikap yang dipilihnya.

Tapi beliau berkata kalo hal ini dilakukannya karena memang Ebola mudah menyebar melalui cairan tubuh seperti keringat, dan waktu itu memang Mas Suami sering mengalami mimisan akibat udara kering bulan Oktober. Jadi, baginya lebih safe menjaga diri dengan perilaku hati-hati daripada menyesal dikemudian hari. Karena efek kesehatan diri kita pasti akan berpengaruh terhadap orang-orang disekitar kita, entah itu keluarga ataupun lingkungan hidup sehari-hari.

Tujuan dari MCU yang pernah gw lakukan pun bukan untuk menghakimi diri atas keteledoran menjaga kesehatan. Karena memang suatu penyakit kadang tetap datang walaupun sudah kita usahakan menghindarinya. Ini hanya salah satu ikhtiar memperlakukan tubuh kita dengan baik, karena biasanya setelah hasil MCU ada di tangan, gw lebih berhati-hati menjaga pola makan.

Selain itu, bila ternyata hasil MCU memberikan kita berita sedih tentang keadaan tubuh kita, setidaknya kita akan lebih tahu cara yang layak untuk memperlakukan tubuh ataupun berhati-hati untuk tidak membahayakan lingkungan sekitar bila kita ternyata membawa suatu penyakit yang mudah menular.

Tau diri, ketika pernah menjadi tersangka pembawa virus

Sadari kesehatan diri, lakukan MCU untuk deteksi dini. #edisi slogan sebuah lab kesehatan

Mulesnya Tuh Disini

Yep, udah beberapa hari ini gw ngerasain mules-mules hampir tiap selesai makan atau minum. Kejadian luar biasa buat gw yang udah beberapa bulan merasa sehat di wilayah saluran pencernaan.

Ya tapi gimana enggak mules sih, gw yang udah usaha buat masak atau bawa makanan dari rumah ini tetep aja masih kemasukan banyak makanan penggoda selera dari para penjaja kuliner nusantara. Dan kulinaria favorit tentu saja para warung tepi jalan yang murmer tapi endess gilak.

Hampir dua bulan ini, gw udah kemasukan bakso, nasi goreng dan sate Padang, begor (bebek goreng), martabak, mie Jowo, dan seafood macam kerang dan udang. Okelah, ini sih belum sebanding ama pengalaman kuliner para pecinta makanan lainnya, tapi masa gw mau kalap langsung templok sana-sini mengejar kenikmatan lidah sih😁.

Tantangan senikmat itu belum sanggup gw jalankan, karena selain pingin menjaga kestabilan ekonomi keluarga (ngirit lagi), juga harus pelan-pelan menyesuaikan perut ama kondisi perkulineran umum di Indonesia dong.

Gaya amat sih Neng? Haha, beneran gaya emang. Soalnya kalo gak, bisa-bisa pengalaman beberapa temen yang masuk UGD gara-gara kalap jajan di emperan malah kejadian juga dong. Eh, jangan sampe deh.

Mengingat kondisi para warung yang jadi favorit selama ini memang harus hati-hati dan pelan-pelan saja adaptasinya. Karena mereka terletak di wilayah strategis yang dekat dengan jalur transportasi (baca: pinggir jalan) maka kebersihan pun kadang kurang terjaga. Pun demikian dengan ingredients yang terkandung dalam makanannya, dari minyak goreng yang (biasanya)udah kesekian kali pakai sampe monosodium glutamate yang (mungkin) gak ketinggalan diguyurkan dalam makanan.

Hal itu memang gak menyurutkan nyali gw jajan sih, cuma harus sabar menyesuaikan kalo mo menikmati makanan-makanan endess penggugah selera. Prosesnya salah satunya dengan mules-mules ini ya, si cacing dalam perut protes karena gw udah mulai makan sembarangan, at least makan buatan orang yang beda standart masaknya ama gw.

Hah, gw ini memang gak bisa masak macem-macem, dan proses mengolah makanan pun biasa banget. Tapi dari situ malah perut ini anteng-anteng aja menyantap sajian gak neko-neko.

Tadinya udah punya tekad, untuk mulai menjaga asupan makanan yang lebih sehat. Pingin masak sendiri semuanya, atau paling nggak, jajan makanan yang baik aja (baik di kantong, baik di rasa, baik di perut..maunya😝). Tapi ya gitu deh, niat mulia ini hanya terealisasikan ketika sarapan. Tiba saatnya brunch, atau makan siang, atau sore-sore, itu seluruh snack dan warung sudah melambai-lambai minta disantap.

Hal ini sempat gw akalin dengan puasa, paling enggak, dapat melakukan ibadah sekalian ngencengin tekad menahan diri dari godaan para begor dkk buat makan siang. Etapi mereka tetep aja lolos sensor ketika kumandang adzan maghrib bergema. Gw tetep aja minggirin motor mampir warung Padang, atau pesen bungkus Mie Jowo yang anget-anget mengepul, hmm, yummy.

Nas Gor Padang, enake pol😘

Nas Gor Padang, enake pol😘

Hal lain yang bikin nyesek perut adalah obsesi gw ama cabe-cabean. Hampir tiap makan ditemenin mereka, buat nambah nafsu makan ceritanya. Dan cabe yang gw makan, biasanya berlevel advance. Udah hampir dipastikan dahi bercucuran keringat, dan bibir jadi merona karena kepedesen.

Salah sendiri kalo gitu dong. Niatnya masih setengah-setengah, udah gitu godaannya berat banget ngelawan kuliner Indonesia yang maknyuss ini. Huhu, aku kudu piye?

#nggrundel gak jelas

No Hoax Please!

“Bu, Inggris itu negara penjajah ya?”

“Bu, orang Indonesia dulu menang melawan Belanda ya?”

Eitz, tunggu dulu Nak, Ibu bener-bener bingung harus jawab apa untuk pertanyaanmu ini.

Kenapa harus bingung sih? Tinggal ceritain aja sejarah tentang kemerdekaan Indonesia sesuai buku sejarah SD kita. Hmm, benarkah segampang itu? Gak yakin gw.

Sebagai tukang mikir hal-hal kurang penting, gw beranggapan kalo sejarah yang ditulis di sebagian besar buku sekolah dulu (dan kini mungkin), banyak yang dibelokkan. Banyak hal yang menurut gw ditulis dengan tujuan propaganda suatu kepentingan. Jadi akhirnya susah untuk menilai kebenaran suatu sejarah bila kita tidak banyak membaca versi lain dari penulis lainnya.

Hal ini terjadi juga sampe sekarang, media sudah banyak yang ditunggangi oleh pihak-pihak yang mempunyai misi tertentu. Gw sampe skeptis sendiri, dan harus banyak mencari sumber berita yang lain untuk menyimpulkan kebenaran suatu berita.

Yang menyebalkan, karena skeptis terhadap “media resmi”, gw sempat beralih untuk percaya pada berita yang menyebar di media sosial. Gw pikir medsos lebih bersih dari kepentingan karena pembuat berita biasanya mengalami kejadian itu secara personal, atau katakanlah sebagai tangan pertama. Tapi ternyata sama aja, bahkan bisa dibilang lebih buruk karena banyak berita hoax yang bisa ditemukan di ranah media sosial.

Balik lagi ke soal sejarah. Dengan alasan ini gw merasa untuk menyampaikan “sejarah” yang berkepentingan ini harus hati-hati, terutama pada generasi muda. Jangan sampai salah tangkap dan akhirnya jadi cinta buta ataupun dendam turun temurun seperti cerita Mbak Yoyen disini:
https://chezlorraine.wordpress.com/2015/05/27/turun-temurun/.

Ketika bocil nanya tentang cerita bangsa Indonesia, dari jaman penjajahan sampe proses kemerdekaan pun, gw berusaha netral dengan mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan kesuburan alam, jadi banyak negara yang ingin menguasai Indonesia dengan cara penjajahan.

Negara-negara pendatang itu ingin berada di Indonesia karena mereka sendiri kesusahan menguasai alamnya. Kebetulan bocil sudah pernah merasakan beratnya hidup diterpa musim dingin dan angin di negara utara, maka dia pun mudeng tanpa embel-embel benci yang salah.

Yang gw seneng, bocil bisa mengambil kesimpulan kalo seharusnya kita menjaga Indonesia dengan baik, merawatnya, dan berusaha memperkuat negara Indonesia supaya tidak ada negara lain yang ingin menyerang Indonesia seperti masa lalu.(Ni ceritanya jadi keinget ama film Avatarnya James Cameron).

Indonesia indah!

Indonesia indah!

Suatu tepi pantai di Aceh

Suatu tepi pantai di Aceh

Nah, yang gw agak pusing nih, ntar kalo bocil jawab soal ujian sekolahnya pake kata-kata gw yang belum tentu diterima sistem pendidikan disini. Piye jal?