Jet Lag

Alhamdulillah ya Rabb, selesai sudah Mas Suami menempuh pendidikan di negara Kanjeng Ratu. Selesai pula masa cuti gw selama sembilan bulan ini. Masa “libur panjang”, masa ngumpul bareng anak bojo, dan masa alih profesi dari wanita kantoran jadi bu RT (Rumah Tangga).

Senin, 13 April 2015 kami sekeluarga terbang kembali ke Indonesia. Dengan tetap mengenakan baju lumayan tebal karena Dundee masih bersuhu sekitar 12°C, dan berakhir dengan perasaan salah kostum karena disambut dengan suhu Jakarta yang hangat-hangat sumuk.

Kekangenan dengan keluarga, cerita tentang pengalaman kami selama merantau sebentar, dan rencana yang kami susun untuk melanjutkan kehidupan mengalir mengisi obrolan kami sepanjang malam. Penerbangan selama 19 jam terasa tidak terlalu melelahkan karena tertutupi rasa senang bertemu dengan Ayah Ibu tercinta.

Para bocil pun antusias menceritakan segala sesuatu selama kami numpang hidup di negara orang, dan akhirnya membandingkan cara hidup kami disana dengan pengalaman kami disini. Itu otomatis, walaupun sudah diusahakan untuk gak membandingkan karena selain takut riya, kami juga takut dengan perasaan gak bisa move on dari pengalaman selama kami disana.

Dari yang simple tentang keheranan para bocil dengan orang-orang di airport Soetta yang berjubel kurang tertib dalam antrian mengambil tas bagasi, sampe cara orang berdiri di eskalator yang seharusnya satu baris (agar gak menghalangi orang lain kalo ada yang ingin jalan cepat di eskalator).

Perubahan paling menyenangkan memang suhu hangat Indonesia akhirnya mengijinkan para bocah untuk main di luar rumah dengan memakai baju pendek. Walaupun ruangan hijau gak banyak tersedia disini serta udara yang berdebu, insyaAllah masih bisa dinikmati dan disyukuri.

Sayangnya jam tidur kami masih kacau, walaupun dipaksa untuk tetap terjaga siang hari, tapi mata dan badannya udah capek pingin istirahat. Giliran malam tiba, energi malah jadi full gak mau dibawa tidur. Hal ini wajar terjadi mengingat perbedaan waktu enam jam (waktu BST) antara Indonesia dengan UK.

Kata temen yang sudah sering keluar negeri dengan perbedaan waktu yang lumayan ekstrim ini, mereka biasanya maksain badan supaya tetap beraktifitas siang harinya, dicapek-capekin pokoknya, ntar malemnya juga dipaksa istirahat. Setelah dua sampe tiga hari biasanya tubuh akan menyesuaikan lagi dengan jadwal normal.

Walaupun susah, tapi memang harus diakui kalo badan harus dipaksa menyesuaikan diri dengan lingkungan ya. Beberapa hari ini, gw paksain siang harinya sibuk bongkar tas koper dan muter-muter nyari sekolah bocah tapi hasilnya ya masih tetep aja. Siang hari badan rasanya lemes kecapekan, tapi ternyata malemnya mata masih kuat melek berjam-jam, hiks.

Perasaan waktu dulu kami sampe di UK, jet lagnya gak separah ini deh. Kami langsung bisa menyesuaikan diri dengan jadwal matahari nongol dan tenggelam disana. Ternyata kata mbah wiki, travelling menuju timur memang lebih banyak menimbulkan efek jet lag daripada travelling ke barat. Karena tubuh memang lebih mudah menunda jam tidur daripada mengawalinya.

Tapi ya wes, dinikmati aja prosesnya, semoga aja masa-masa vampir (karena siangnya sering nguantuk dan malemnya sering melek) ini cepat terlewati dan urusan kami melanjutkan hidup dapat dilakukan dengan lancar. Amin.

Oiya, selain masih jet lag, gw masih belum bisa move on dengan kenangan tempat dan kebiasaan kami selama disana. Issh, sampe sekarang gw masih takut aja download lagu atau film bajakan😁, selain itu, UK waktu kami tinggalkan juga masih dalam kondisi mulai berbunga-bunga mengawali musim semi. So beautifull lihat taman-taman mulai hijau daun dan warna bunga, kaya gini :

Bunga Daffodil

Bunga Daffodil

20150412151242

Cherry blossom

Cherry blossom

20150323161703

Bunga di tepi jalan..eh, jadi inget Sheila on 7😁

20150323161114

Purple flower..(gak ngerti namanya😁)

20150323161130

Indah ya?

Ahh, di Indonesia juga banyak bunga cantik kaya gitu kok. Kapan-kapan hunting bebungaan gitu yuuk! Eits, tapi jangan hunting “sebut saja Mawar” di koran lampu abang yaa😁.

 

Para Tamu di Kota London

Sebagai salah satu kota kosmopolitan dunia, London tentu menarik bagi jutaan orang. Dari yang sekedar ingin berkunjung, ataupun mencoba peruntungan dengan mencari nafkah.

Para pendatang ini menurut gw sudah mendominasi kota London, dimana-mana lebih sering ketemunya ama orang Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Asia. Bahasa yang dipake pun macem-macem, dan tak semuanya fasih berbahasa Inggris, sama kaya gw😑.

Warung-warung, restoran, cafe, toko souvenir bertebaran di seluruh penjuru kota. Mau milih makanan dengan cita rasa apa aja kayanya lebih mudah ditemui di London, dari masakan Italia, Thailand, maupun Libanese. Warung Padang pun katanya ada beberapa disini, namun sayang gw gak sempat nyambangin karena jalurnya gak termasuk dalam daftar lokasi kunjungan.

Tapi tetep aja ya, walopun para warung itu bertebaran, dan sungguh menggoda untuk dicicipi, kami tetap bertahan pada prinsip hemat pangkal kaya karena harga seporsi menu emang lumajan mihil bow, jadinya cuma mupeng numpang lewat doang.

#turis perhitungan

Dampak dari banyaknya pengunjung kota London, baik sebagai turis maupun imigran pasti ada kurang lebihnya. Pendapatan dari para pendatang kota London merupakan pemasukan yang lumayan besar bagi pemerintah Inggris, namun yang namanya ngatur orang banyak dan berasal dari berbagai macam budaya pasti sangat sulit.

Polisi di kota London gw lihat cukup galak, sekaligus ramah. Pengalaman lihat seorang turis Eropa di gelandang ama Pak Pol gara-gara melanggar perintah supaya gak nyebrang jalan waktu Changing Guard mo dimulai, eh, mas turisnya masih nekad. Di depan umum si turis diomelin pake cara yang herannya menurut gw masih “elegan”😁 tapi tetep bikin malu, haha, sukurin.

Desel-deselan lihat Changing Guard

Desel-deselan lihat Changing Guard

Lain waktu, gw lihat ada truk es krim nekad berhenti di atas Tower Bridge untuk melayani pelanggan beli es krim, gak lama kemudian sirine Pak Pol udah bunyi aja dong mendekat. Hehe, bagus Pak, kalo gak tegas gitu takutnya London jadi semrawut lho Pak, kaya ibukota negara kami ini nih.

Sempat naik bis double decker yang tersohor itu, dan menemukan para penumpang yang bising banget ngobrol sambil ketawa-tawa, ternyata para turis juga. Gw berani nge klaim itu turis, karena selain mendengar bahasanya yang bukan bahasa Inggris, juga setahu gw, orang UK bertipe tenang elegan. Jarang banget gw ketemu orang UK yang tone suaranya tinggi dan berisik, jadi kalo naik transportasi umum atau masuk public area suasananya masih enak bareng para ladies and gentleman ini.

Ngantri naik bis

Ngantri naik bis

Pengalaman lain yang gak bakal lupa, ketika suatu saat kami ngantri nge-tap kartu oyster di suatu stasiun, waktu itu gw antri di pintu khusus yang bisa dimasuki lebih dari satu orang karena pintu ini memang ditujukan untuk orangtua yang bawa bocil, (dimana para bocil ini masih belum kena tarif angkot) dan orang yang bawa stroller atau tas geret. Nah, belakang gw ini ada seorang pemuda imigran (bukan bule) yang tingkahnya agak mencurigakan, dia ikut ngantri di belakang gw walopun gak bawa anak atau barang bawaan berat.

Otomatis gw waspada megang bocil dan tas yang jadi tanggung jawab gw, plus siap-siap teriak kalo orang itu nekad gangguin, tapi ternyata nothing dangerous happened, Alhamdulillah.. Dia mepet cuma mo nebeng lewat pintu masuk stasiun tanpa bayar ongkos kereta, abis itu juga langsung ngacir gw liatin terus. Yeah, ternyata ada juga imigran nekad gini ya, padahal denda yang diberlakukan bagi para pelanggar aturan ini (kalo ketahuan) cukup besar lho.

Alhamdulillah juga, kota London (dan kabarnya negara Inggris pada umumnya) masih termasuk daerah yang sangat toleran dengan imigran, dan muslim. Ini penting banget buat gw yang berkerudung dan takut banget ama hal-hal berbau intoleransi.

Malah gw diceritain ama host dari Wisma Siswa Merdeka, kalo Londoners udah gak terlalu memikirkan SARA. Mereka lebih peduli perbedaan antara klub sepakbola yang mereka dukung. Di stasiun underground Holloway Road, stasiun terdekat dari Emirates Stadium, dipasang pembatas dari besi sepanjang jalurnya untuk mencegah para suporter bentrok saking antusiasnya mereka terhadap pertandingan sepakbola.

Bukan the Gooners kok

Bukan the Gooners kok.

Yah, yang penting memang kita sebagai tamu, pendatang, bukan orang asli sono memang selayaknya menghargai kebudayaan dan peraturan daerah yang kita kunjungi. Dimana kaki berpijak disitu langit dijunjung. Kalo situ sopan, maka kami segan.

#edisi stiker truk Pantura

Bond, Sherlock, dan Zombie

Edisi belum bisa move on dari kota idaman, mana cuma sempat mampir tiga hari doang disana, jadinya masih terkenang-kenang dengan kota London yang cantik. London mempunyai banyak tempat yang pingin dikunjungi karena buku, film, dan legenda yang melatar belakanginya.

Buku “Around The World” nya Disney yang pertama kali bikin gw jatuh cinta ama London, selain Rome, Moskow, dan Berlin (ya ampyun di Eropa semua). Disitu disebutin kalo London penuh dengan bangunan-bangunan kuno, jaringan kereta bawah tanah yang rumit, dan berbagai macam jenis orang dari belahan dunia yang berkunjung sebagai turis maupun mencoba peruntungan menjadi pekerja.

Setelah itu ada serial fiksi James Bond sang mata-mata flamboyan, anggota British Secret Service yang misterius. Nah, di London ini ada nama jalan yang dinamai Bond Street, tentu saja gw pikir antara James Bond ama Bond Street ini ada hubungannya, jebule ora nana blas.

Yang nama jalan diambil dari seorang tokoh asli bernama Sir Thomas Bond, seorang developer properti yang membangun dan mengembangkan kawasan West End of London. Yang James Bond adalah tokoh rekaan Ian Fleming yang gak berkurang tenarnya dari tahun 1953 (ni mungkin pake susuk galian singset biar pamornya gak turun deh😁). Favorite gw tentu saja Om Pierce Brosnan yang ganteng, dan Mas Daniel Craig sang Bond yang lebih humanis.

DSCF0146-1

Ter-Sherlock Holmes!

Sosok rekaan lain yang bikin kepincut dari negara Britania Raya ini adalah Sherlock Holmes. Baik novelnya, film layar lebarnya (yang edisi Robert Downey Jr), maupun serialnya (edisi Benedict Cumberbatch) gw cinta😘😘.

Di stasiun Baker Street

Di stasiun Baker Street

Gw pun seneng udah bisa lihat museumnya di Baker Street walopun gak masuk karena tiketnya mihil plus reviewnya kurang menarik. Oiya, sang pencipta tokoh, Sir Arthur Conan Doyle, ternyata lulusan the University Of Edinburgh Medical School, gw baru tau ini dan gw seneng karena udah pernah mampir kesono yeayy.

#norak

28 Days Later dan 28 Weeks Later

Ada yang pernah lihat dua pilem ini? Pilem jadul (tahun 2002 dan tahun 2007) yang gw lihat hanya beberapa hari sebelum gw berangkat ke London, damn.

Kenapa? Karena ini pilem horor dan bikin deg-degan sangat. Jadi ceritanya kenapa sampe bisa kesasar nonton pilem ini, waktu masih nyari informasi tentang London, all about London, tetiba muncul lah pilem zombie nan mengerikan ini. Karena udah terlanjur lihat ya gw tuntaskanlah nontonnya, dan tentunya sukses ketakutan.

Pilem ini menceritakan tentang outbreak virus bernama Rage yang berasal dari simpanse, membuat orang yang terinfeksi akan bertindak beringas. Penampakan “the infected” mirip zombie, namun mereka tidak takut sinar matahari, dan mampu berlari dengan cepat untuk mengejar orang yang masih sehat. Saking terasa ngerinya, setiba gw di City Center of London, tempat lokasi syuting, gw masih ngebayangin adegan kejar-kejaran para tokoh ama the infected.

Plus saking menghayati cerita, gw sampe kepikiran kalo bakal kejadian kaya tu film, berarti gw harus ngapain aja, sembunyi dimana, lewat jalur apa, dan kalo ketemu the infected harus gendong siapa😝😝.

Lebay sangat emang, tapi biarin lah, yang penting kan gw udah prepare, dan ide gw kalo ketemu keadaan kaya gini, mungkin gw bakal ngambil keputusan kaya Beete di film Catching Fire, dengan mengaliri sungai Thames pake listrik, jadi lebih efektif memusnahkan the infected yang mengerikan. Oke, ini psikopat banget ya, tapi menurut gw bisa dipertimbangkan lah😝.

Nah, masih banyak hal yang pingin gw ceritain tentang London dan para kaum pendatangnya, jangan bosan ya karena gw memang bener-bener belum bisa move on. See you next post, and thanks for stopping by..😘😘.

Ngebolang Santai di London

Akhirnya tiba juga gw di London, ibukota Britania Raya tempat Mas Pangeran bertempat tinggal selama ini. Oh yeah, jangan heran ama kenorakan ini. Karena dari kecil gw udah kena racun Cindelaras, ealah salah, Cinderella tentang putri-putrian dan charming prince, makanya sejak dulu emang ada keinginan buat menjejakkan kaki di kota ini.

Sst, aku udah di depan rumahmu lho Mas

Sst, aku udah di depan rumahmu lho Mas

Alhamdulillah kesini dikawal tiga lelaki yang mampu mengendalikan impian gw ngedeprok di depan istana Buckingham gak kesampean. Kami cuma sebentar nongkrongin penjaga istana berseragam merah ganti giliran jaga, habis itu bubar jalan keliling kota London naik angkot plus mersi, ummm, mersikil maksudnya (by sikil, atau kaki; Jawa).

London yang padat, dipenuhi dengan turis, pekerja, dan imigran ternyata masih cukup bersahabat buat traveler standart macam kami yang budgetnya pas-pasan plus bawa bocah cilik wich is kenyamanan tetep harus diutamakan.

Kami keliling kota naik tube atau underground kota London, salah satu jenis transportasi kota London berwujud kereta yang lintasannya lebih banyak di bawah tanah. Dari stasiun ke stasiun, hal yang paling menarik buat anak gw yang tergila-gila ama kereta justru kesempatan naik kereta ini.

Untungnya Underground Kota London ini nyaman buat anak kecil, gak kayak KRL. Mungkin juga karena masih liburan Paskah atau kami yang kebetulan naik tube pas bukan rush hours, yang jelas kereta dalam kota ini memang patut diacungi jempol untuk kecepatan, ketepatan jadwal, kebersihan, dan kenyamanannya.

Pas gw gugling ternyata jaringan kereta bawah tanah London merupakan salah satu jaringan kereta yang sudah dioperasikan sejak abad 19, tahun 1863. Yang bikin kagum, jalur kereta itu tumbuh secara rapi dan terencana, gak main bongkar sana sini atau malah mangkrak gak jelas.

Selain tube sebenarnya masih ada beberapa alternatif moda transportasi untuk mengelilingi kota London, masih ada bus, national rail (ini jalur kereta penghubung beberapa kota di UK, tapi masih ada yang beroperasi di kota London), trem, dan riverboat. Khusus untuk para turis yang ingin menikmati kota London bisa pake hop on hop off bus, atau big bus tour yang akan membawa penumpang berkeliling tempat-tempat wisata di kota London disertai guide.

Masing-masing moda tentu punya kelebihan sendiri-sendiri, selain kecepatan, pemandangan yang bisa dinikmati, faktor kemacetan lalu lintas, maupun biaya. Kami milih tube dengan pembayaran make kartu oyster karena dirasa paling praktis untuk ngebolang di London sambil bawa bocil. Stasiunnya menghubungkan tempat kami menginap di Wisma Siswa Merdeka didaerah Willesden Green dengan lokasi yang ingin kami kunjungi, walaupun kadang harus pindah-pindah jalur masih bisa ditolerir para bocah.

Keluar dari stasiun, biasanya kami harus nyambung jalan kaki ke tempat-tempat yang ingin kami tuju. Dan yang namanya ngebolang bareng bocil itu ya musti super sabar ama kelakuan ajaib mereka. Alat tempur dan bekal harus disiapin selengkapnya. Lebih baik rempong bawa macem-macem daripada tau-tau harus beli di perjalanan, mihil bos. Pampers, jaket tebal, air minum dan bekal makanan merupakan starter kit kami sebagai orangtua yang pelit ngerti ilmu mitigasi resiko.

Khusus bekal makanan ini, gw masak beberapa menu makanan yang sekiranya tahan lama dan praktis, pada malam sebelum keberangkatan kami ke London. Gw bikin martabak telor, pastel ayam, ama nugget yang sudah digoreng dan tinggal diangetin microwave biar lebih tahan lama. Bekal rumahan ini sukses habis di hari kedua dan membuat kami harus mampir kedai Chicken Cottage yang ada label halalnya. Kedai ini lumayan murah dan yang penting bisa mengganjal perut lah. Selain bekal rumahan, kami bawa pisang, biskuit, atau sandwich yang bisa kami beli di supermarket lokal. Makanan tersebut harganya masih tolerable dibanding menu restoran yang berkisar £5 per porsinya.

Setelah urusan bekal beres, kami planning jadwal ngebolang yang disesuaikan dengan perkiraan kemampuan bocil jalan kaki plus ketertarikan mereka dengan tempat yang akan dituju. Hari pertama kami hanya mampu mengunjungi Greenwich Peninsula, Tower Bridge, Big Ben, dan Trafalgar Square. Itu aja dengan protes keras dari para bocil karena selain sempat kesasar di stasiun Tower Hill, ternyata mereka hanya antusias ke Greenwich Peninsula dan gak tertarik dengan bangunan-bangunan kuno nan megah khas kota London.

Dari pengalaman itu, hari kedua kami mutusin buat mengunjungi tempat yang sekiranya menarik buat bocil. Kami milih National History Museum, Science Museum London di daerah Kensington, Arsenal Stadium, trus naik London Eye malam harinya. Eh, tak lupa pagi-pagi ngumpul ama ratusan orang nonton Changing Guard di Buckingham Palace dan menyusuri indahnya taman St. James. Alhamdulillah, walaupun badan tepar dan bocil sempat ketiduran di kereta saking capeknya jalan tapi mereka antusias banget.

Hari ketiganya, kami hanya mampir sebentar di KBRI untuk mengurus surat pindah sekolah bocil dan balik ke Baker Street buat poto-poto di depan museum Sherlock ama Madam Tussauds. Puas nampang di Baker Street, kami melanjutkan perjalanan ke King’s Cross Station tempat kami akan naik kereta pulang ke Dundee.

Yeah, tiga hari rasanya belum puas muter-muter London. Jangankan di kotanya yang penuh bangunan ciamik buat nampang, menyusuri museumnya yang luas pun rasanya belum puas.

Gw bilang ke bocil buat say goodbye ama London, dan berharap suatu saat bisa kesini lagi karena oyster card gw masih ada sisa deposit £4 dan tentunya dengan kondisi yang lebih fit buat jalan, plan yang lebih tertata, dan waktu yang lebih lama. Amiin.

Salute Mr. Habibie

Salute berdua!

Salute berdua!

Masih inget ama Pak Habibie nggak? Bagi gw yang tumbuh ditahun 90-an, beliau mungkin lebih dikenal sebagai Menristek abadi, yang kemudian jadi Wakil Presiden dan akhirnya menggantikan posisi Pak Harto jadi presiden di era reformasi.

Kalo anak muda jaman sekarang mungkin lebih mengenal Pak Habibie karena kisah cintanya terhadap istrinya, Bu Ainun, yang difilmkan dan diperankan dengan bagus oleh Reza Rahadian dan BCL ya?

Nah, waktu dulu nonton film itu, gw sempat agak gimana gitu ama jalan ceritanya, maksudnya nih, kayanya gw meleng dari tujuan film ini dibuat. Karena menurut gw, film ini kan genrenya romance ya, tapi gw malah terkesimanya ama semangat dan cinta Pak Habibie terhadap homeland beliau, Indonesia.

Jangan salah, gw tetep kagum dengan cinta Pak Habibie dengan Bu Ainun yang -Ya Allah- kayanya udah semakin sulit aja ditemui. Begitu sederhana, fokus pada cita-cita, saling mendampingi, dan gak neko-neko.

Namun di atas semua cinta beliau itu, gw bener-bener salut dengan kisah pengabdian dan cita-cita beliau membuat Indonesia sebuah negara yang lebih maju dan berdikari. Idenya sebagai insinyur untuk membuat pesawat made in Indonesia yang bisa digunakan sebagai alat transportasi murah untuk menghubungkan seluruh wilayah di Indonesia sangat mulia.

Perjuangan beliau sebagai teknokrat yang berhasil menerbangkan pesawat N250 pada tanggal 10 Agustus 1995 membuat gw yang waktu itu masih SD ikut bangga setengah mati pada prestasinya. Tentu saja gw belom ngerti bahwa penerbangan pesawat N250 itu telah melalui proses terjal nan berliku.

Berbagai proposal kerjasama yang ditolak oleh pihak luar negeri, maupun cibiran dari orang Indonesia asli pun dilalui Pak Habibie dengan tabah. Beliau tetap gigih membangun IPTN, walaupun akhirnya terhenti karena masalah pendanaan di era Orde Baru.

Yang lebih keren lagi, ketika akhirnya menjabat sebagai Presiden ke-3 RI, beliau malah gak menghidupkan kembali IPTN dimana sebenernya ada kesempatan menggunakan kewenangannya sebagai penguasa negara. Beliau lebih mengutamakan kepentingan rakyat yang waktu itu menderita karena krisis ekonomi dan pergolakan reformasi. Beliau merelakan cita-cita yang telah bertahun-tahun menghabiskan masa hidupnya, beliau tidak mau bertindak egois. Super banget!

Cerita ini mungkin hanya sisi positifnya aja ya, gw yakin juga beliau bukan manusia sempurna. Banyak pihak yang menanyakan keputusannya terhadap jajak pendapat Timor Leste dan keberaniannya membuka keran demokrasi di Indonesia.

Di suatu acara televisi beliau menyatakan kalo Indonesia sudah waktunya belajar berdemokrasi, belajar dewasa dalam berpikir dan berpendapat. Namun yang perlu diingat juga untuk lebih giat bekerja, karena kalo rakyat Indonesia hanya pintar berpendapat maka siapa yang kerja😁.

Indonesia patut bangga mempunyai Bacharuddin Jusuf Habibie, seorang negarawan yang mempunyai prestasi nyata, kerjanya ada, dan masih cinta Indonesia.

Nah, ada yang mau menyusul jejaknya membangun negara?

 

Iuran Tipi

Beberapa hari ini, gw dihantui kekhawatiran akan suatu surat dari provider internet yang kami gunakan. Walaupun surat tersebut ditujukan buat tenant sebelum kami, namun tak ayal tetap menjadi beban karena perihal suratnya serius.

Surat itu berisi tentang TV Licence, yaitu ijin yang dibutuhkan oleh seseorang untuk menonton atau merekam program acara televisi. Hal ini termasuk ketika kita menonton televisi melalui komputer, mobile phone, games console, digital box, DVD/VHS recorder dan alat lainnya.

Setiap tahun, penduduk UK yang menonton televisi wajib membayar £145.50 untuk televisi berwarna atau £49.00 untuk televisi hitam putih (emang hitam putih bukan warna gituh??). Peraturan ini berlaku untuk seluruh acara televisi, walaupun gw nonton streaming siaran OSCAR dari televisi Amrik, atau gw langganan TV kabel ya tetep kena. Pelanggaran atas peraturan ini bisa dikenai denda £1000 bila petugas dapat membuktikan kita menonton TV secara ilegal (ini yang bikin deg-degan).

Nah, sehari-hari disini sih perasaan gw gak ada nonton acara TV, selain karena gak punya TV dan seperangkat alat receiver TV, kami lebih sering nonton acara via Youtube (dimana gw malah lebih rawan kena pasal nonton acara bajakan). Tapi gak ngerti juga kalo secara gak sengaja kami melanggar aturan, itu namanya khilaf Pak.

Ijin menikmati siaran televisi ini mengingatkan gw pada iuran TV di jaman pak Harto masih berkuasa. Waktu itu, TVRI sebagai televisi nasional dibolehkan menarik iuran televisi kepada warga.

Iuran TVRI ini berakhir mengikuti tumbangnya pemerintahan Pak Harto yang digantikan dengan era katanya sih reformasi, mengakibatkan TVRI mempunyai perubahan bentuk struktur organisasi dan sistem pendanaan.

Sama seperti fungsi iuran televisi di Indonesia jaman dahulu, ternyata TV licence di UK digunakan sebagai sumber dana BBC (televisi nasionalnya UK) untuk mengudara. Kenapa gak cari duit dari iklan atau sumber dana lain? Itulah, BBC UK katanya sih berusaha untuk bebas dari iklan, serta berusaha tetap independent tanpa terpengaruh kepentingan politik.

Yang hebat, walopun TV nasional, BBC ini bisa menampilkan konten yang menarik, disertai chanel-chanel khusus seperti BBC News, BBC Sport, dan CBeebies (chanel dengan konten untuk anak).

Gw lebih seneng mereka blusukan nyari kadal daripada nonton TV

Gw lebih seneng mereka blusukan nyari kadal daripada nonton TV

Melihat tujuan dari iuran tipi ini sepertinya mulia, dunia pertelevisian publik membutuhkan dana dari masyarakat supaya bisa menampilkan acara yang dinilai baik, bebas dari tekanan rating dan keberpihakan.

Dan mengingat perkembangan acara TV publik di Indonesia sekarang ini, yang isinya didominasi sinetron bertema “day dreaming”, infotainment, reality show, pencitraan politik, dan sesekali berita kebakaran atau pembegalan, maka disini gw merasa sedih (hayah!).

Gak dapat dipungkiri, acara-acara tersebut timbul karena :

  • Ada penonton →rating tinggi →iklan (pemasukan) atau,
  • suatu kepentingan→dana→acara pencitraan.

Hal tersebut sayang banget, karena budaya masa kini lebih didominasi oleh teknologi digital seperti televisi. Dan bila nilai-nilai hiburan (minus pendidikan) yang cenderung negatif terus ditayangkan dan dinikmati oleh sebagian besar masyarakat Indonesia (yang masih memilih menonton televisi publik), maka dampak negatif tersebut akan lebih banyak diserap masyarakat. Belum lagi untuk berita yang dipertanyakan nilai kejujurannya karena bisa membelokkan opini publik atas suatu realitas.

Ini beda kasusnya untuk orang yang memilih berlangganan TV kabel dan internet, mereka bisa memilih jenis tontonan sesuai kebutuhan mereka. Dan mereka secara sadar mengerti dampak negatif kalo nonton konten media yang “gak mendidik”.

Maka, sebagai rakyat jelata yang suka mimpi kondisi utopia, gw pinginnya televisi publik pun bisa lebih banyak menampilkan konten yang menarik plus mendidik plus menjunjung etika jurnalisme.

Alasannya untuk melindungi konsumen yang menikmati siaran televisi publik, memberikan mereka alternatif pilihan tayangan yang lebih mendidik karena gw yakin banyak penonton yang sebenernya merasa “terpaksa”, atau “tidak banyak pilihan” dengan acara-acara yang ada selama ini.

Dan, kalo alesannya para stasiun TV masih minim menayangkan acara ideal macam itu karena dana, ya..kembali ke jaman TVRI itu, iuran televisilah salah satu jalan keluarnya.

Sumbangsih masyarakat ini bisa digunakan televisi nasional untuk mempercantik dan memperbaiki kualitasnya, atau membeli prime time dan mengisinya dengan acara yang lebih positif.

Cumaa, bisakah hal ini dilaksanakan di Indonesia? Bayar PBB Rp. 50 ribu setahun aja kadang susyeee..😖😖

Ground Coffee 😁😁

a.k.a kopi darat (Bahasa) or meet-up (English).

“Hi, I am at cafe now, left corner with blue shirt” he texting me.

(I am in the right corner, with wide eyes opened)

-scanning hair

-scanning face

-scanning body measurements

-scanning complete

# not very attractive boy, better running before he know I’m here#

“Hi, I am sorry, I can’t go to see you. My mom asks me to accompanying her to kondangan” I’m replying his text.

(Blind Date)

So many people have an experience about this meet up, thanks again to social media. It gives us many way to connect with another person, including someone we don’t know.

When I was teenager, I could accept at least one message every week from a stranger in my friendster account. Sometimes, it was made me scared. Their language so aggressive and sometimes too intimate😕. At that point, I couldn’t do nothing than blocking their account so they can’t send me another freaky message.

But, it just part of bad experience in social media, there are a lot of fun people we can see from those way. People with same interest, with nice attitude, and polite language.

I have many new friend in my blogging activities, they are come from many different areas. I have never seen them before, but it is like I knowing them for a time by our conversation at the blog.

Maybe someday I will like to meet them, talking about our hobbies or sharing our experience or just hang out together. But, stranger is a stranger, I need safety for myself to meet someone new. You know, with everything about criminal action by virtual mates are commonly happen.

IMG_20150309_210533

Don’t try to screw me😁

For the first time to meet up, I will take the wise tips from the article I had found, let we see :

  • Go find the information about your virtual friends,
  • Tells your family or close friend about the meet up, just as anticipation if anything happen,
  • Take the public area as your meeting point,
  • Dress-up properly, do not too much or even worse, vulgar,
  • Agree to meet-up with womens (same gender as me) for a single meet up, or with mens at group meet-up( not for single meet up, it is not date, you remember 😊),
  • Reject every single kindness in loan form, money or other valuable things.

And hopefully I can meet up with my new friend at safest, nicest, and best way.😁😁.

Lha Kok Sama?

Buat urusan dokumentasi, gw memang butuh banyak pengalaman buat mengarahkan gaya, atau membidik objek dan spot yang baik. Pasalnya, kalo ditelusuri lagi, galeri poto gw ternyata banyak yang tema-nya hampir sama, angle pengambilan objeknya biasa, dan gayanya pun tiada berbeza😁😁.

Yah, memang masih belajar sih. Lagian kebanyakan poto yang diambil memang tanpa pengarahan gaya, sakdadine. Alesannya tentu saja karena objeknya suka males pose.

Oiya, ini postingan sebenernya melanggar aturan gw tentang penggunaan poto yang ditampilkan di blog, maksudnya, dulu pinginnya meminimalisir poto narsis, lagian gw kan berusaha misterius gitu lah. Tapi karena lagi impulsif membuat kumpulan poto gini, ya sudahlah (gak tahan iman).

Yang gak kuat liat poto narsis gw, silahkan lambaikan tangan yaaa!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nah gimana, sudah adakah yang melambaikan tangan?😁😁

Halalan Toyiban

Sebagai muslim, hidup di negara dimana badan khusus (non pemerintahan) yang menangani sertifikasi halalnya masih belum mencakup sebagian besar produk pangan dan industri, adalah sebuah keistimewaan. Istimewa karena kami butuh pengetahuan dan kehati-hatian ketika akan memutuskan membeli sesuatu untuk digunakan.

Pengetahuan tentang hal-hal yang halal dan haram mencakup ingredients dan cara pengolahannya, serta kehati-hatian ketika tercantum beberapa bahan yang masih diperdebatkan kehalalannya.

Selama ini, kami sekeluarga berusaha menjaga diri dengan membeli daging ayam dan sapi di toko yang menjual daging (yang insyaAllah) halal walaupun dengan harga yang lebih mahal dari harga supermarket. Kadang hal tersebut juga masih menjadi misteri dimana terdengar kabar bahwa ada beberapa rumah pemotongan hewan yang sudah mengklaim halal, namun cara penyembelihannya hanya dengan memperdengarkan rekaman bacaan basmallah melalui tape.

Untuk bahan makanan pokok selain daging, kami berbelanja di supermarket grosir. Ikan, beras, gula, susu, sayur mayur, bumbu, tepung, dan kadang roti, snack, serta keju. Bahan-bahan mentah tersebut, kami sudah cukup yakin kehalalannya. Namun untuk bahan pangan yang diolah, seperti keju dan roti memerlukan perhatian khusus, karena kadang bahan pengembang dan emulsifiernya mengandung zat dari hewan yang kami tidak tahu kehalalannya. Begitu pula dengan saus seperti mayonaise yang mengandung spirit vinegar (cuka dari alkohol) serta es krim yang mengandung gelatin dari lemak hewani.

Sering ketika kami berbelanja, kami termangu memeriksa komposisi suatu bahan makanan dan mencocokkannya dengan daftar zat yang dihalalkan atau diharamkan menurut situs halal checker. Alternatif paling darurat adalah dengan mencari tanda “v” di label bahan makanan atau kosmetik yang berarti suitable for vegetarians.

Beberapa kali kejadian, setelah bermenit-menit mengecek, kami memutuskan gak jadi beli karena ragu 😓. Untung penjaga tokonya maklum dan gak bersikap sinis gara-gara gak jadi beli.

Untuk jenis makanan yang susah didapat karena masalah halalan toyiban ini, kadang bikin gw jadi “kepekso” kreatif. Bakso dan roti adalah beberapa contoh makanan yang sudah pernah gw coba bikin dan masih amburadul hasilnya. Alhamdulillah untuk es krim dan mayonaise sudah menampakkan secercah harapan karena bocah-bocah suka (mereka adalah petugas quality control gw).

Diluar urusan makanan, kosmetik dan barang fashion juga mulai gw usahain untuk perhatian pada komposisi bahan pembuatnya. Untuk kosmetik, gw masih setia ama produk Indonesia yang beberapa diantaranya sudah ada label halal, dan ketika belanja kosmetik disini pun, bahannya hampir sama dengan kosmetik yang gw pake sebelumnya, jadi gw menganalogikan kosmetik tersebut halal (sudah di cek juga).

Yang agak ribet sebenarnya barang fashion, dimana label barang gak mencantumkan ingredients detil seperti bahan makanan dan kosmetik. Gw mulai aware karena dulu pernah denger issue tentang sepatu kulit ternama yang ternyata menggunakan bahan pig skin lining.

Cara meng-identifikasikan bahan kulit ini pun cukup tricky karena proses pengolahannya bisa menimbulkan hasil yang berbeda dari yang diterangkan, juga kadang kulit yang digunakan tidak terletak di tempat yang terlihat, seperti di dalam sol sepatu.

Cara paling gampang sih nanya ama toko atau perusahaan produsen barang tersebut. Berdasarkan info dari berita sih mereka cukup fair menerangkan bila terdapat bahan kulit dari babi.

Sebenernya, ketika kami masih di Indonesia pun, issue tentang halal haram ini sudah ada. Alhamdulillah Mas Suami termasuk orang yang cukup ketat dan rewel dalam urusan ini, terutama masalah makanan.

Dari dulu kami berusaha menghindari restoran besar atau bahan makanan yang belum ada sertifikasi halalnya. Alasannya karena kami menilai mereka melek issue halal haram ini dan mampu mengurus biaya sertifikasinya, jadi ketika label halal itu belum tercantum ya mending menghindar ajalah.

Yang susah kalo ketemu jajan pasar dan warung kecil-kecilan yang menu nya endes, walopun seringnya masih berprasangka baik bahwa bahan yang mereka gunakan halal. (Ini bener gak sih? Mengingat pernah ada berita tentang bakso daging ti***  😓)

Hal ini jadi dilema juga, mereka kadang gak kepikiran buat ngurus sertifikasi halal. Atau malah yang lebih parah, pernah ada cerita kalo biaya sertifikasi halal rupanya beyond their capability. Nah, hal seperti ini kira-kira solusinya gimana ya?

Ayo berpikir bersama😜😜

20150305131823

British Summer Time

Musim dingin belum juga berakhir, angin masih menderu-debu dan gw udah ngelindur tentang summer.. Oh my, gw rindu kehangatan matahari.

Jadi ya, di akhir Februari yang dingin ini, matahari sudah nongol dong mulai jam tujuh-an. Yang tadinya tiap nganterin Aro berangkat sekolah sekitar jam 9 masih gelap layaknya jam 6 pagi, eh, sekarang ini sinar mentari udah crong gitu.

Dan kemarin gw dikasih tau Mas Suami kalo British Summer Time (BST) tahun ini akan dimulai tanggal 29 Maret 2015 dan berakhir tanggal 25 Oktober 2015. Nah, apa pula ini?

Gini lho, di negara empat musim seperti UK ini, memasuki musim semi, maka matahari akan lebih lama dan lebih gasik nongol setiap harinya daripada ketika musim dingin. Dan ketika warga UK tetap memakai acuan waktu GMT (Greenwich Mean Time) dimana matahari sudah terang menyinari bumi belahan utara, namun jam dinding masih menunjukkan waktu yang terlalu gasik buat beraktifitas, banyak orang tersugesti untuk males-malesan atau bobo pagi di rumah.

Jadi BST ini digunakan pemerintah Inggris untuk membuat penduduknya bangun lebih pagi, dengan melakukan penyesuaian waktu satu jam lebih awal dari GMT.

Penyesuaian waktu ini diberlakukan di Inggris mulai tahun 1916, beberapa minggu setelah Jerman meresmikan Daylight Saving Time (Central European Summer Time).

Pencetus ide tentang “daylight saving time” di Inggris berasal dari Mr. William Willet, seorang penduduk Inggris yang suka berkuda dipagi hari dan menyadari betapa orang-orang telah melewatkan banyak waktunya dengan telat bangun karena jam menunjukkan waktu yang masih pagi.

Pada tahun 1907, dengan dana pribadinya, beliau membuat pamflet tentang “The Waste of Daylight” yang menyerukan ide tentang bangun lebih pagi dengan penyesuaian waktu di seluruh pelosok negeri Inggris. Dan pada waktu itu, ide nyeleneh Mr. Willet langsung ditolak ama pemerintah Inggris dong.

Setelah itu, selama sisa hidupnya, Mr. Willet tak kenal lelah memperjuangkan skema penyesuaian-waktu-summer-nya. Beliau meninggal pada tahun 1915 dan idenya tentang penyesuaian waktu di musim panas tetap ditolak.

Setahun setelah kepergiannya, akhirnya pemerintah Inggris menerima ide penyesuaian waktu tersebut dengan lolosnya The Summer Time Act of 1916 di tangan perlemen Inggris.

Alasannya karena waktu itu berlangsung World War I antara Inggris dan Jerman, dan semua kemungkinan yang menyangkut tentang penghematan energi serta pemanfaatan tenaga kerja akan dilaksanakan.

Landasannya adalah, teori bahwa dengan digesernya waktu lebih awal maka jam kerja akan lebih awal dimulai serta penggunaan lampu dan energi domestik akan lebih sedikit digunakan karena orang sudah mulai beraktifitas di luar rumah.

Proses penyesuaian waktu tersebut mempunyai kisah yang panjang, mulai dari kesulitan untuk menyesuaikan mekanika rumit sebuah jam (ketika itu jam merupakan teknologi yang melibatkan banyak mur dan sekrup), sampai dengan tiga tahun eksperimen Pemerintah Inggris (1968-1971) untuk menyesuaikan waktu Inggris lebih awal satu jam dari GMT sepanjang tahun, termasuk ketika winter berlangsung.

Oiya, BST ini memang berlangsung hanya ketika summer dan autumn. Ketika memasuki musim dingin, maka waktu akan mengikuti GMT lagi. Jadi dalam satu tahun, ada hari dimana waktu berlangsung selama 23 jam, yaitu ketika BST dimulai ( hari Minggu terakhir pada bulan Maret) dan hari dimana waktu berlangsung selama 25 jam, yaitu ketika waktu mengikuti GMT lagi (hari Minggu terakhir pada bulan Oktober).

Saat ini, “daylight saving time” diberlakukan oleh sebagian besar negara di sisi utara dan selatan garis khatulistiwa. Walaupun sudah lebih dari 100 tahun dijalankan, namun penyesuaian waktu ini memang masih menjadi perdebatan. Tentu saja karena ada pihak yang merasa dirugikan atau diuntungkan dengan adanya penyesuaian waktu ini.

Buat gw, memang BST ini agak merugikan, karena eh karena, gw harus bangun lebih pagi buat siap-siap nganterin bocah sekolah 😁😁. Padahal ya, males bangun pagi ini pantang kalo buat orang Indonesia. Ora elok.

Yah, mungkin Mr. Willet ini menggebu-gebu memperjuangkan daylight saving ini karena beliau sudah tahu pepatah “kalo lu bangun siang, rejeki lu bisa habis dipatok ayam”.

***

Rasulullah SAW bersabda : “Bangunlah pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhanmu. Sesungguhnya pada pagi hari terdapat barokah dan keberuntungan.”

(HR. Ath-Thabrani dan Al Bazzar)

IMG_20150227_214400